Tak Sekadar Sensasi, Munculnya Paus Orca di Maratua Bukti Kesehatan Ekosistem Laut Berau

Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi

Feb 27, 2026 - 10:59
Feb 27, 2026 - 11:11
 0  4
Tak Sekadar Sensasi, Munculnya Paus Orca di Maratua Bukti Kesehatan Ekosistem Laut Berau
Ilustrasi paus orca. Foto: Getty Images/iStockphoto/Musat

KARTANEWS.COM, BERAU – Kemunculan paus orca di perairan Kepulauan Maratua disambut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau sebagai fenomena alam yang luar biasa sekaligus membanggakan.

Fenomena ini dinilai menjadi indikator bahwa ekosistem laut Berau masih dalam kondisi relatif baik dan mendukung berbagai macam keberagaman hayati laut.

Kepala Bidang Pengembangan Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah, menegaskan, kemunculan megafauna laut tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai euforia wisata, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen terhadap pengelolaan pariwisata yang keberlanjutan.

“Kemunculan paus orca ini kami sambut sebagai fenomena alam yang luar biasa. Ini menunjukkan ekosistem laut Berau masih terjaga. Namun, kami tidak melihatnya hanya sebagai atraksi wisata, melainkan sebagai penguat komitmen pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan,” ujarnya, kepada wartawan kartanews.com, Jumat (27/2/2026).

Terkait potensi pemanfaatan sebagai materi promosi wisata, Disbudpar menyatakan pada prinsipnya fenomena tersebut dapat menjadi bagian dari narasi promosi, namun dengan pendekatan yang bijak. Paus Orca tidak akan dijadikan atraksi utama untuk menarik wisatawan datang secara khusus memburu satwa tersebut.

Samsiah menjelaskan bahwa paus orca bukan satwa yang menetap permanen di suatu wilayah. Kemungkinan besar perairan Maratua hanya menjadi lintasan migrasi. Jika keberadaannya berlangsung lebih lama, hal tersebut dapat menjadi indikasi ketersediaan pakan yang melimpah di perairan Berau.

“Fenomena ini kami kemas sebagai bagian dari narasi besar bahwa Berau adalah destinasi bahari yang kaya biodiversitas dan dikelola secara bertanggung jawab, bukan sebagai komoditas atraksi reguler,” tegasnya.

Dalam hal promosi digital, Disbudpar mengapresiasi peran para kreator konten dan operator wisata yang telah membagikan dokumentasi kemunculan orca secara luas. Konten tersebut dinilai sebagai bentuk kolaborasi dan sinergi pentahelix dalam mempromosikan pariwisata daerah.

“Kami bangga karena temuan ini diangkat oleh para content creator dan operator wisata melalui konten edukatif yang dibagikan ribuan orang. Tidak semua promosi harus dikerjakan langsung oleh Disbudpar. Ini bentuk kolaborasi,” tambah Samsiah.

Disbudpar secepatnya akan menyusun konten narasi edukatif mengenai cara berinteraksi yang benar dengan satwa laut, termasuk paus orca, guna meningkatkan kesadaran konservasi di kalangan wisatawan dan pelaku usaha wisata.

Secara global, wisata pengamatan satwa liar memiliki pasar tersendiri, khususnya wisatawan minat khusus (special interest tourism).

Samsiah mengungkapkan fenomena kemunculan orca dinilai berpotensi meningkatkan eksposur destinasi Berau di tingkat nasional maupun internasional. Peningkatan kunjungan tetap harus berada dalam koridor daya dukung lingkungan.

“Maratua memiliki branding sebagai Quality Tourism and Sustainable Tourism. Jadi setiap potensi peningkatan kunjungan harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan,” jelasnya.

Kemunculan paus orca juga dinilai memperkuat positioning Berau sebagai destinasi bahari kelas dunia. Selama ini, daya tarik utama kawasan Kepulauan Derawan dan sekitarnya meliputi snorkeling, diving, dan island hopping.

Dalam memastikan promosi tetap sejalan dengan prinsip konservasi, Samsiah menegaskan bahwa konservasi merupakan fondasi utama, sementara promosi adalah konsekuensi.

“Tidak ada promosi yang mendorong wisatawan untuk mendekat, mengejar, atau mengganggu satwa di habitat aslinya. Semua narasi harus selaras dengan regulasi perlindungan satwa liar dan prinsip ekowisata dan kami usahakan untuk antisipasi ini,” tegasnya.

Sebagai langkah preventif, Disbudpar juga akan menyampaikan imbauan kepada operator kapal wisata melalui media sosial.

Adapun imbauan tersebut, yaitu menjaga jarak aman 100–200 meter dari satwa, tidak melakukan pengejaran, tidak memberi pakan, serta menghindari kebisingan yang berlebih. Pedoman ini bertujuan menjaga keselamatan wisatawan sekaligus melindungi satwa di habitat alaminya.

Sementara itu, Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mulawarman sekaligus peneliti, Muchlis Efendi mengingatkan kepada nelayan di Maratua agar lebih berhati-hati dan segera menjauh jika bertemu paus orca.

"Biasanya bergerak di awal-awal tahun, seperti sebelumnya. Jangan percaya film yang menyatakan Orca tuh memang hewan cerdas bisa dilatih oleh manusia. Sementara aslinya habitatnya di alam liar. Hewan ini adalah puncak predator. Jadi, sedapat mungkin ya batasi lah jarak interaksi dengan mereka," ujarnya, dilansir dari detik.com, Jumat (27/2/2026).

Lebih lanjut, Disbudpar berau telah berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait fenomena ini. Berdasarkan penjelasan KKP, perairan Berau memang berada pada jalur migrasi berbagai biota laut besar serta memiliki karakteristik laut dalam yang produktif, sehingga memungkinkan menjadi lintasan paus orca.

Untuk memastikan momentum ini berdampak jangka panjang, Disbudpar juga telah merumuskan berbagai strategi kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi konservasi seperti WWF.

Strategi ini nantinya akan menjadi penguatan narasi Berau sebagai destinasi bahari berkelanjutan, peningkatan edukasi konservasi laut, serta pengembangan standar operasional wisata bahari berbasis konservasi.

“Momentum ini tidak boleh berhenti pada viralitas sesaat. Harus menjadi penguat branding Berau sebagai destinasi kelas dunia yang tidak hanya indah, tetapi juga bertanggung jawab dan berkelanjutan,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0