Lebaran Unik di Berau, Orang Utan Nikmati Ketupat dalam Program Rehabilitasi
Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi
KARTANEWS.COM, BERAU – Suasana perayaan Idulfitri di Berau, Kalimantan Timur menghadirkan pemandangan berbeda, khususnya di pusat rehabilitasi satwa. Sejumlah orang utan menjalani momen Lebaran dengan cara unik, yakni menyantap makanan yang dikemas dalam anyaman ketupat sebagai bagian dari program pengayaan perilaku.
Di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam, Kabupaten Berau, makanan satwa sengaja dibungkus menyerupai ketupat dan digantung di area bermain. Metode ini diterapkan untuk merangsang aktivitas empat bayi orang utan agar memanjat dan berusaha membuka anyaman tersebut guna mendapatkan makanan.
Founder sekaligus Direktur Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menjelaskan bahwa metode ini merupakan bagian dari enrichment atau pengayaan perilaku yang dirancang untuk melatih kemampuan fisik dan kognitif satwa.
“Pengayaan melalui media ketupat ini kami rancang untuk menantang kemampuan fisik dan kognitif bayi orang utan. Dengan menggantung makanan di area bermain, mereka terdorong untuk aktif bergerak dan berusaha meraih makanan,” ujarnya dikutip dari detikkalimantan, Jumat (27/3/2026).
Menurutnya, proses tersebut tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga kesabaran dan keterampilan satwa dalam memecahkan masalah sederhana, seperti membuka anyaman ketupat.
“Dalam prosesnya, orang utan harus memanjat, bergelantungan, serta mengoordinasikan tangan dan kaki. Ini menjadi simulasi bagaimana mereka mencari makan di habitat alaminya,” tambahnya.
Praktik serupa juga diterapkan oleh Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP). Pada kegiatan sekolah hutan, makanan dimasukkan ke dalam ketupat dan digantung di dahan pohon untuk merangsang perilaku alami orang utan.
Manajer BORA, Widi Nursanti, mengatakan bahwa metode ini bertujuan menjaga satwa tetap aktif sekaligus menghindari kejenuhan selama masa rehabilitasi.
“Enrichment membuat orang utan tetap sibuk, berpikir, dan belajar mencari cara untuk mendapatkan makanan. Ini juga melatih kemampuan problem solving serta merangsang indra penciuman mereka,” jelasnya.
Ia menambahkan, isi ketupat dibuat bervariasi, mulai dari potongan buah, selai, hingga madu, guna meningkatkan minat dan kreativitas satwa dalam memperoleh makanan.
“Variasi pakan ini diharapkan dapat mendorong kreativitas fisik dan perilaku alami mereka saat makan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, mengapresiasi inovasi tersebut. Ia menilai pendekatan kreatif dalam pengayaan perilaku menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan rehabilitasi orang utan.
“Ketupat ini bukan sekadar kemasan, tetapi menjadi media problem solving yang efektif. Satwa didorong untuk memanfaatkan kemampuan fisik dan indra penciumannya dalam memperoleh makanan,” ungkapnya.
Ari menegaskan, variasi metode pengayaan perilaku serta kolaborasi antar lembaga konservasi sangat diperlukan agar proses rehabilitasi berjalan optimal hingga satwa siap kembali ke alam liar.
“Inisiatif ini mencerminkan bahwa setiap proses belajar yang dijalani orang utan merupakan bagian penting menuju pelepasliaran ke habitat aslinya,” tutupnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0