Aksi Jilid II HMI Samarinda di PLN Berujung Ricuh, Ketua HMI Dikabarkan Luka-Luka
KARTANEWS.COM, SAMARINDA – Aksi demonstrasi jilid II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda bersama Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Samarinda di depan kantor PT PLN UP3 Samarinda, Kamis (5/11/2025) pukul 17.00 Wita, berujung ricuh. HMI Samarinda mengklaim sejumlah kader mengalami luka-luka akibat benturan dengan aparat kepolisian, termasuk Ketua Umum HMI Cabang Samarinda yang dilaporkan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Dalam aksi tersebut, HMI Samarinda kembali menyuarakan tuntutan terkait transparansi gangguan pembangkit listrik, kompensasi bagi masyarakat terdampak pemadaman bergilir, serta meminta pencopotan Manajer PLN UP3 Samarinda, Adrianus Simtompul.
Muhammad Shefa dari HMI Samarinda mengatakan, aksi kali ini turut melibatkan TRC PPA Samarinda dan sejumlah ibu-ibu untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang terdampak pemadaman listrik.
Menurut Shefa, pihak PLN menawarkan kesempatan audiensi yang dibatasi untuk 10 orang perwakilan massa. Namun, tawaran tersebut ditolak karena massa menginginkan audiensi bersama serta keterbukaan data terkait persoalan pembangkit listrik.
“Kami sudah dua kali memperingatkan bahwasanya kami akan masuk, tapi yang terjadi PLN bisa memberikan 10 orang untuk audiensi, dan kami tolak. Kami datang bersama, kami masuk bersama,” ujar Shefa.
Ia menambahkan, HMI sebenarnya bersedia melakukan audiensi di halaman parkir seperti aksi sebelumnya, selama pihak PLN bersedia membuka data persoalan pembangkit listrik, termasuk dalam bentuk dokumen cetak.
Namun, menurutnya, tidak adanya respons yang sesuai dengan tuntutan massa memicu ketegangan hingga terjadi benturan dengan aparat kepolisian.
Shefa mengklaim Ketua Umum HMI Cabang Samarinda mengalami luka pada bagian bibir, lebam, hingga terjatuh dan terdesak saat aksi berlangsung. Ia juga menyebut sejumlah kader lainnya mengalami luka-luka.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan setelah aksi, HMI Cabang Samarinda mengecam tindakan yang mereka sebut sebagai represifitas aparat kepolisian Polresta Samarinda. Organisasi tersebut menyatakan beberapa kader mengalami luka, termasuk seorang kader yang disebut mengalami luka robek pada kepala.
Ketua Umum HMI Cabang Samarinda juga dilaporkan berada di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan dan istirahat akibat gangguan pernapasan serta lebam di sekitar wajah.
HMI menyatakan akan mendatangi Polresta Samarinda untuk menyampaikan kecaman dan menuntut pertanggungjawaban atas dugaan tindakan represif terhadap mahasiswa dan masyarakat.
Tiga Tuntutan HMI kepada PLN
Dalam aksi jilid II tersebut, HMI Samarinda menyampaikan tiga tuntutan utama kepada PLN UP3 Samarinda.
Pertama, meminta pencopotan Manajer PLN UP3 Samarinda, Adrianus Simtompul, yang dinilai tidak mampu memberikan jawaban atas tuntutan dalam aksi sebelumnya.
Kedua, menuntut transparansi mengenai persoalan pembangkit listrik yang menyebabkan pemadaman bergilir di Samarinda.
Ketiga, meminta PLN memberikan kompensasi kepada masyarakat Kota Samarinda yang terdampak pemadaman listrik bergilir.
Shefa menegaskan, aksi demonstrasi terhadap PLN belum berakhir. HMI Samarinda berencana kembali menggelar aksi jilid III dengan melibatkan massa yang lebih besar dan mengumpulkan masyarakat terdampak pemadaman listrik.
“Kami akan kembali lagi dengan massa yang lebih banyak, dengan mengumpulkan masyarakat-masyarakat terdampak untuk meminta pertanggungjawaban,” tegasnya.
Selain itu, HMI Samarinda juga berencana menggelar konsolidasi di sekretariat organisasi untuk menyampaikan pernyataan sikap resmi atas dugaan tindakan represif aparat kepolisian. (IRLA)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0