Strategi Menjaga Stabilitas Ketahanan Pangan pada Musim Kemarau dan Kabut Asap di Kabupaten Berau

Oct 3, 2026
Strategi Menjaga Stabilitas Ketahanan Pangan  pada Musim Kemarau dan Kabut Asap di Kabupaten Berau
Foto Penulis

Oleh : Suwarno ( Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Muhammadiyah Malang ) 

OPINI, KARTANEWS.COM — Secara geografis Kabupaten Berau berada di daerah tropis dengan posisi geografis 10 LU – 20 33 LS dan 1160 BT – 1190 BT. Rata-rata curah hujan 2.134,33 mm per tahun dengan rata-rata hujan 10,68. Kondisi tersebut menjadikan Berau relatif jarang mengalami kemarau panjang.

Namun fenomena iklim global seperti El Nino pada tahun 2026 ini memicu perubahan iklim yang signifikan. Musim kemarau lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan berdampak luas di berbagai sektor.

Dampak utama kemarau panjang adalah penurunan debit air yang memukul sektor pertanian. Akibatnya, produksi sayuran merosot dan harga berbagai komoditas pangan melonjak. Padahal, produksi pertanian merupakan pilar utama ketahanan pangan daerah. Namun dalam kondisi normal, pasokan pangan lokal di Kabupaten Berau belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Berdasarkan data resmi BPS dan Dinas Pangan, Berau masih sangat bergantung pada pasokan luar daerah. Ketersediaan pangan lokal yang terbatas ini akan semakin terancam saat kemarau panjang dan bencana kabut segera melanda. Oleh karena itu, diperlukan strategi komprehensif agar stabilitas pangan daerah tetap terjaga.

Kemarau panjang juga mempertinggi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bencana ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pembukaan lahan pertanian dengan cara pembakaran, ketidakadilan masyarakat seperti pembuangan puntung rokok sembarangan, hingga munculnya titik panas (hotspot) pada penangkapan batu bara. 

Dampak karhutla yang meluas tidak hanya mengancam kesehatan, melainkan juga mengganggu sistem distribusi pangan. Kabut asap tebal melumpuhkan jalur transportasi darat, laut, dan udara, sehingga pasokan bahan pangan ke Kabupaten Berau terhambat.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan bahwa ancaman perubahan iklim mulai memberikan tekanan nyata terhadap sektor pertanian di Bumi Batiwakkal. Musim kemarau saat ini menjadi bukti bahwa produksi pangan sangat bergantung pada kestabilan lingkungan. 

Jika tidak diantisipasi, gangguan produksi dapat memicu kelangkaan pasokan dan menambah beban ekonomi masyarakat. Tantangan menjaga ketahanan pangan kian kompleks di daerah yang buruk pada cuaca ekstrem dan kemarau berkelanjutan.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya menyiapkan sistem pangan daerah yang tangguh, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk menghadapi risiko masa depan (Swara Berau Com, 1 September 2026).

Berdasarkan berbagai tantangan tersebut, terdapat beberapa langkah strategi, baik mitigasi maupun preventif, yang dapat dilakukan untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan di Kabupaten Berau. Langkah awal dimulai dari optimalisasi pengelolaan air budidaya pertanian. 

Hal ini dapat dilakukan dengan mengandalkan jaringan irigasi di daerah berbasis waduk atau bendungan, memperkuat program pompanisasi di daerah tepi sungai, menerapkan teknologi irigasi tetes, serta mengembangkan sistem hidroponik yang hemat udara. 

Selain itu, pemerintah daerah perlu memperbanyak pembangunan embung penampung air hujan dan memprioritaskan alokasi air bagi tanaman pangan utama.

Upaya pengelolaan air tersebut harus diselaraskan dengan pemilihan komoditas yang tepat. Para petani disarankan beralih ke tanaman dan benih yang adaptif serta tahan terhadap kekeringan, seperti jagung, ubi jalar, singkong, kacang-kacangan, dan varietas padi lahan kering. 

Pengaturan jadwal tanam secara cermat juga sangat krusial agar masa panen tidak berbenturan dengan puncak kemarau. Di sisi lain, diversifikasi pangan lokal dan sektor peternakan perlu terus dikembangkan agar ketahanan pangan daerah tidak bertumpu pada satu jenis komoditas saja.

Selain faktor tanaman, pemeliharaan kondisi tanah juga memegang peranan penting. Tingkat kesuburan dan kelembapan tanah perlu dijaga menggunakan mulsa serta bahan organik agar tanah mampu menyimpan udara lebih lama. Upaya konservasi tanah dan udara ini harus didukung oleh penyebarluasan informasi perkiraan iklim secara akurat dan masif kepada masyarakat, sehingga para petani dapat mengantisipasi datangnya musim kemarau lebih awal.

Strategi penting lainnya adalah pengamanan cadangan pangan daerah. Di tingkat masyarakat, warga diimbau melakukan penyimpanan mandiri untuk komoditas beras, jagung, umbi-umbian, dan benih guna mengantisipasi gangguan distribusi. Sementara di tingkat pemerintah, Perum Bulog wajib memastikan ketersediaan stok penyangga pangan yang mampu sepanjang musim kemarau.

Terakhir, tindakan pencegahan dan penanggulangan karhutla harus dilaksanakan secara tegas melalui penyuluhan yang intensif, penegakan regulasi larangan pembakaran lahan, serta penanganan cepat saat muncul titik api. Langkah ini sangat menentukan dalam mencegah kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan, mobilitas masyarakat, dan kelancaran distribusi pangan di Kabupaten Berau.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
Redaksi Kartanews

Lebih dari sekadar informasi. Kartanews menghadirkan fakta yang akurat, perspektif yang cerdas, dan berita yang berdampak.