Jejak Kebaikan di Asrama Bukit: Ketulusan Kader Posyandu Mawar Harum Bagi Generasi Akar Rumput
BALIKPAPAN — Gemerlap industrialisasi energi dan denyut nadi ekonomi perkotaan yang menderu kencang, kerap menyisakan ruang sunyi di sudut pemukiman padat penduduk. Di balik megahnya puluhan kilang minyak Pertamina di Balikpapan, terbentang realitas sosial yang membutuhkan uluran tangan serta ketulusan kolektif. Bayang-bayang kukuh persoalan stunting serta karang rapuh bencana tanah longsor senantiasa menguji ketahanan warga di Asrama Bukit, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat. Namun, di tengah bayang-bayang tersebut, sebuah angin perubahan berhembus melalui sinergi strategis antara masyarakat akar rumput dengan sektor korporasi.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR) yang dihadirkan oleh PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balikpapan di wilayah Asrama Bukit, membuktikan bahwa intervensi modern tidak melulu hadir dalam bentuk bantuan instan. Lebih dari itu, program ini merajut kemandirian sosial secara menyeluruh, menyapa warga dari bilik-bilik gizi buruk yang kerap tersembunyi, hingga menata kembali ekosistem lingkungan agar lestari di masa depan.
Comdev Officer Pertamina Patra Niaga, Rizqy Ray, menyampaikan pihaknya membentuk tiga pilar program unggulan yang saat ini tengah berjalan bersama masyarakat di kawasan tersebut, di antaranya Warga Siaga Sehat (Wasiat), Replikasi Pengelolaan Sampah Organik lingkungan, serta Pengelolaan Tanaman Pangan berbasis Hidroponik yang diperuntukkan sebagai penunjang gizi warga di sekitar RT 10,11,12,14 dan 63 Asrama Bukit.
“Inisiasi program ini berjalan dari tahun 2022, dan kita replikasi awal tahun kemarin. Di lokasi ini baru berjalan 10 bulan lebih,” jelas Rizqy saat ditemui pada Rabu (4/11/2026).
Denyut Kehidupan di Akar Rumput dan Wajah Ceria Sang Buah Hati
Dari hasil Program tersebut, Raut ceria terpancar dari wajah Azma yang berusia (3) tahun, balita mungil asal RT 12 Kelurahan Baru Ilir itu, tampak asyik melangkah dan bermain di halaman Posyandu Mawar Harum yang terletak di Kompleks Asrama Bukit. Bagi Azma, tempat tersebut bukan sekadar fasilitas kesehatan biasa, melainkan ruang bermain yang menyenangkan sekaligus saksi bisu atas pertumbuhan fisik dan kembang motoriknya.
“Di sini suka main sama teman,” ucapnya polos saat didampingi sang ibu.
Azma merupakan salah satu anak yang secara rutin mendapatkan pendampingan tumbuh kembang sejak usia dini melalui program Posyandu Mawar Harum. Menurut keterangan Helmi Suciati selaku kader senior posyandu, kegiatan pemantauan tumbuh kembang anak tersebut dilakukan secara berkala dan berkesinambungan tanpa pernah absen.
Pemberian fasilitas alat timbang digital yang presisi dari Pertamina menjadi salah satu suntikan semangat tersendiri baginya bersama para kader posyandu yang lain dalam peranya mengentaskan Stunting di area tersebut, sekaligus mempercepat proses pemantauan tumbuh kembang anak secara objektif.
“Pendampingan ini kami lakukan secara konsisten setiap bulan. Tujuannya agar setiap perubahan sekecil apapun pada anak, baik dari segi berat badan, tinggi badan, maupun aspek kognitifnya, dapat terpantau dengan akurat oleh tenaga medis,” ungkap Neni di sela-sela kesibukannya melayani warga di posyandu.
Sementara itu, Rizqy Ray menuturkan bahwa rangkaian program ini masih berada dalam fase pengembangan berkelanjutan. Pihaknya berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan memperluas cakupan intervensi secara bertahap kepada masyarakat balikpapan.
“Kita akan melihat secara berkala setiap program yang dijalankan. Ketika memang sudah berjalan baik, maka pasti ada program yang lain yang akan kami bantu kembangkan,” tambahnya.
Transformasi Pelayanan Melalui Konsep Integrasi Layanan Primer (ILP)
Seiring berjalannya waktu dan dinamika kebutuhan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks, pola pelayanan kesehatan di tingkat akar rumput terus berbenah mengikuti regulasi modern Kementerian Kesehatan. Posyandu Mawar Harum kini telah sukses mengimplementasikan konsep Integrasi Layanan Primer (ILP).
Paradigma pelayanan ini telah bergeser secara signifikan; posyandu tidak lagi sekadar berfokus eksklusif pada kesehatan balita semata, melainkan memperluas cakupan layanannya hingga mencakup enam siklus kehidupan manusia secara menyeluruh: mulai dari ibu hamil dan nifas, bayi dan balita, anak usia pra-sekolah, remaja, usia dewasa, hingga kelompok lanjut usia.
Dalam praktiknya di lapangan, para kader posyandu tidak pernah dibiarkan bekerja sendirian. Setiap jadwal penimbangan bulanan yang secara konsisten disepakati dilaksanakan pada pekan kedua setiap bulannya selalu didampingi secara langsung oleh tenaga kesehatan (nakes) profesional dari Puskesmas Baru Ilir.
Kolaborasi erat yang terjalin harmonis antara bidan Kelurahan, tenaga kesehatan, dan para kader posyandu memastikan bahwa setiap warga yang hadir dapat terpantau kondisi kesehatannya secara komprehensif.
“Kalau ad anak yang berat badannya tidak naik selama beberapa bulan, langsung kita beri perhatian khusus. Bukan berarti kurang gizi, bisa jadi karena anak mulai aktif bergerak. Di sinilah pendekatan persuasif kepada orang tua sangat penting agar mereka tidak panik berlebihan,” tutur Helmi selaku kader senior posyandu.
Pendekatan Humanis dan Gerakan Jemput Bola
Kepedulian luar biasa yang ditunjukkan oleh para kader kesehatan di Posyandu Mawar Harum tidak pernah berhenti hanya di atas meja. Ketika menemukan situasi ada balita atau ibu hamil yang berhalangan hadir karena suatu alasan mendesak, para kader bersama tenaga medis tidak pernah ragu untuk turun tangan langsung melakukan kunjungan rumah
Metode praktis jemput bola ini, terbukti sangat efektif dalam menjaga akurasi data kesehatan warga sekaligus memastikan secara mutlak bahwa tidak satupun anak di wilayah tersebut yang terlewatkan dari daftar pemantauan imunisasi dasar lengkap serta kurva pertumbuhan kembangnya.
Menariknya lagi, pendekatan humanis dan penuh kelembutan yang diterapkan oleh para kader berhasil mengikis habis rasa takut psikologis yang kerap dialami anak-anak kecil terhadap petugas kesehatan. Jika pada masa lalu pemandangan anak-anak menangis histeris, menjerit, atau bersembunyi saat hendak ditimbang merupakan hal yang lumrah, kini situasi tersebut telah berbalik 180 derajat.
“Sekarang malah sebaliknya. Begitu melihat bangunan Posyandu buka, mereka lari-lari antusias memanggil ibunya, ‘Mah, Posyandu sudah buka!’ Padahal itu kadang bukan jadwal penimbangan resmi. Itu kebanggaan tersendiri buat kami, bisa membuat anak-anak tidak trauma dengan posyandu,” ungkap Ibu Helmi
Mengikis Tabu Lewat Kebun Gizi dan Hidroponik
Kader Posyandu Mawar Harum, saat melakukan perawatan tanaman hidroponik
Sity Suryani yang merupakan anggota pengelola program tersebut memaparkan, berbekal semangat gotong royong yang tinggi dan pendekatan kultural yang humanis, warga bersama para kader setempat bahu-membahu merajut kemandirian melalui program pemberdayaan lingkungan dan kebun gizi mandiri.
Selama delapan bulan terakhir, berbagai program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi bersama Pertamina mulai menunjukkan hasil yang sangat nyata. Pendekatan yang dirancang tidak bersifat top-down yang kaku, melainkan berfokus pada pemetaan sosial, pendekatan partisipatif dari bawah (bottom-up), serta membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan dalam mengelola potensi lingkungan sekitar secara mandiri.
“Kita kerjanya di sini masih sifatnya sukarela Mas. Kita lebih berupaya menggerakkan massa rakyat. Jadi kita gerakan ibu-ibu di sini. Kebetulan saya yang pertama mencetus hidroponik ini,”terangnya.
Ditempat yang sama, Rizqy Ray juga menuturkan, salah satu tantangan kultural terbesar di tingkat akar rumput dalam penanganan kasus stunting adalah masih adanya anggapan di kalangan sebagian orang tua bahwa kekurangan gizi atau stunting merupakan hal yang tabu atau memalukan untuk dibicarakan secara terbuka.
Alih-alih memberikan label negatif atau teguran langsung yang justru melukai psikologis orang tua, para kader kata dia, bersama kelompok warga bergerak secara gerilya melakukan pendekatan personal yang persuasif. Mereka mencatat dan memantau tumbuh kembang anak secara halus sambil memberikan edukasi gizi yang mudah dipahami.
Sebagai solusi jangka panjang yang berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tingkat keluarga, warga memanfaatkan setiap jengkal lahan sempit dan terbatas di pemukiman padat penduduk dengan membangun Kebun Gizi serta instalasi hidroponik mandiri.
“Kalau kita hanya membuat kompos saja tanpa ada hilir pemanfaatannya, tentu kurang maksimal. Dengan adanya kebun gizi dan hidroponik di lahan terbatas ini, harapannya masyarakat bisa memetik hasil secara langsung mulai dari sayur segar hingga bibit tanaman tanpa harus selalu merogoh kocek untuk membeli pupuk atau kebutuhan dapur harian,” tuturnya.
Pengolahan Sampah Organik Mandiri dan Program Kampung Iklim (Proklim)
Gerakan pemberdayaan masyarakat di Baru Ilir dan Posyandu Mawar Harum tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan manusia semata, tetapi juga merambah secara perlahan ke sektor pelestarian lingkungan hidup melalui implementasi Program Kampung Iklim (Proklim).
Rizqy mengatakan, mengingat tingginya volume sampah rumah tangga dan sampah dapur di kawasan padat penduduk tersebut yang tercatat mencapai rata-rata 153 kilogram per RT setiap harinya warga didorong secara aktif untuk mengolah sampah organik langsung dari sumbernya masing-masing.
“Kami bersama Pemerintah setempat bersama pendamping program memfasilitasi warga dengan penyediaan mesin komposter dan pelatihan teknis,”jelasnya.
Langkah inovatif ini dinilai sangat efektif dan efisien dalam menekan serta mengurangi beban volume pembuangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) regional. Di sisi lain, proses pengomposan ini menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi yang langsung diaplikasikan untuk menyuburkan tanaman sayuran di kebun gizi warga.
Membangun Kesiapsiagaan Bencana di Tingkat Tapak
Pihak Pertamina juga menyampaikan, aspek ketahanan sebuah kota tidak akan pernah sempurna tanpa kesiapan masyarakatnya dalam menghadapi potensi ancaman bencana alam maupun non-alam. Di Kelurahan Baru Ilir, aspek mitigasi bencana ditempatkan sebagai salah satu pilar krusial yang tidak boleh diabaikan.
Melalui pembentukan Kelompok Keluarga Tangguh Bencana (Katana) yang mayoritas anggotanya digawangi oleh kaum bapak dan pemuda setempat, warga secara rutin mendapatkan pembekalan sosialisasi serta pelatihan simulasi darurat bencana.
Mengingat kondisi topografi dan karakteristik wilayah Balikpapan yang memiliki tingkat kerawanan terhadap musibah kebakaran permukiman padat dan bencana tanah longsor, simulasi evakuasi mandiri dirancang sedemikian rupa secara berkala.
“Hal ini bertujuan agar seluruh warga memahami betul jalur evakuasi yang aman serta langkah-langkah tanggap darurat tatkala musibah datang secara tiba-tiba tanpa diduga,”Jelas Comdev Officer Pertamina Patra Niaga, Rizqy Ray.
Menjaga Asa dan Keberlanjutan Melalui Kolaborasi Berkesinambungan
Seluruh rangkaian keberhasilan program pemberdayaan masyarakat di jantung Kota Balikpapan ini tentu tidak akan terwujud tanpa adanya proses pendampingan yang konsisten dan berkesinambungan.
Petugas lapangan dari korporasi, para kader posyandu, tenaga medis puskesmas, hingga unsur pemerintah kelurahan secara berkala melakukan monitoring harian, evaluasi bulanan, serta forum pertemuan tahunan guna memastikan bahwa roda program senantiasa berjalan sesuai jalur harapan dan tepat sasaran.
Dari sepetak lahan sempit yang disulap menjadi kebun hijau hidroponik, ketulusan para kader posyandu yang merawat senyum anak-anak, hingga kesadaran kolektif dalam mengolah sampah organik dan siaga bencana, warga Baru Ilir dan Mawar Harum telah membuktikan sebuah filosofi kehidupan yang agung.
Ketahanan sebuah kota besar tidak diukur dari seberapa megah gedung-gedungnya, melainkan dari seberapa kuat kebersamaan dan kepedulian antar sesama yang dirawat dengan ketulusan dari lingkungan sosial terkecil.
Dari langkah-langkah kecil di lantai posyandu sederhana itu, sebuah asa besar terus dirajut: memastikan setiap anak tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menyongsong masa depan gemilang dari jantung Kota Balikpapan yang beriman, bersih, indah, dan aman. (*)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0