Kisah Fenomena Jane: Induk Orangutan yang Bertahan Hidup Bersama Dua Bayi Kembarnya di Hutan Kaltim
Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi
KARTANEWS.COM, KUTAI TIMUR – Tim Conservation Action Network (CAN) Borneo bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur kembali melakukan penyelamatan satwa dilindungi. Kali ini, seekor orangutan betina dewasa ditemukan bersama dua bayi kembarnya, sebuah fenomena yang sangat jarang terjadi di alam liar.
Induk orangutan tersebut kemudian diberi nama Jane, sementara kedua anaknya dinamai Andrianto dan Parlin. Ketiganya ditemukan di kawasan hutan yang telah mengalami fragmentasi di wilayah Kalimantan Timur.
Direktur CAN Borneo, Paulinus Kristianto, menjelaskan proses penyelamatan bermula dari laporan masyarakat yang melihat seekor induk orangutan turun ke area terbuka.
“Pada hari pertama kami melakukan pengecekan, tetapi belum menemukan keberadaan orangutan tersebut. Baru pada hari kedua tim berhasil menemukannya,” ujarnya dilansir dari detikkalimantan, Kamis (5/3/2026).
Saat pertama kali ditemukan, tim sempat ragu apakah dua bayi yang berada bersama induk tersebut merupakan anaknya atau anak dari individu lain.
Namun setelah diamati lebih lanjut, ukuran tubuh kedua bayi yang relatif sama menunjukkan bahwa keduanya merupakan anak kembar.
“Kami sempat bertanya-tanya apakah itu bayi orangutan lain atau milik induknya. Setelah dilihat lebih dekat dan ukurannya sama, kami menyimpulkan bahwa itu memang bayi kembar,” jelasnya.
Kelahiran bayi kembar pada orangutan tergolong sangat langka. Paulinus menyebutkan, dalam catatan konservasi di Indonesia, kasus serupa terakhir kali tercatat pada tahun 2020 di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
“Kasus bayi orangutan kembar ini sangat jarang, mungkin hanya satu dari ratusan kejadian kelahiran orangutan,” katanya.
Dalam kondisi alami, orangutan umumnya hanya melahirkan satu anak setiap 6 hingga 8 tahun, menjadikannya salah satu mamalia dengan tingkat reproduksi paling lambat di dunia. Kondisi tersebut membuat kelahiran bayi kembar menjadi fenomena yang sangat tidak biasa.
Setelah menemukan Jane dan kedua bayinya, tim melakukan analisis menggunakan citra satelit untuk menilai kondisi habitat di sekitar lokasi penemuan.
Hasilnya menunjukkan bahwa kawasan hutan di wilayah tersebut sudah mengalami degradasi dan tidak lagi cukup mendukung kehidupan orangutan, terutama bagi induk yang harus merawat dua bayi sekaligus.
“Dalam kondisi normal, induk orangutan membutuhkan sekitar satu kilogram makanan per hari. Dengan dua bayi, kebutuhan energi tentu jauh lebih besar karena ia harus memproduksi susu untuk keduanya,” ujar Paulinus.
Dengan kondisi habitat yang terbatas, tim memutuskan untuk melakukan evakuasi dan translokasi guna memastikan keselamatan ketiganya.
Menariknya, proses penyelamatan Jane dan kedua bayinya berlangsung relatif mudah. Biasanya orangutan yang berada di pohon tinggi akan sulit dievakuasi karena enggan turun ke tanah.
Namun dalam kasus ini, Jane justru terlihat kooperatif saat tim mendekat.
“Biasanya orangutan yang sudah berada di pohon tinggi jarang mau turun. Tapi kali ini mereka seperti ingin diselamatkan, seolah menyerahkan diri. Proses evakuasi pun berjalan cukup cepat,” ungkap Paulinus.
Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Ari Wibawanto yang turut terlibat dalam operasi mengatakan bahwa keputusan penyelamatan dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi hutan yang semakin terfragmentasi.
Setelah dievakuasi, Jane dan kedua bayinya langsung menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim medis satwa liar.
“Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dan hasilnya menunjukkan kondisi ketiganya sangat baik. Sekitar tiga jam setelah pemeriksaan selesai, kami langsung melakukan pelepasliaran kembali di lokasi yang telah melalui kajian kelayakan habitat,” jelasnya.
Lokasi penemuan Jane dan bayi kembarnya diketahui berada tidak jauh dari kawasan Simpang Perdau, wilayah yang sebelumnya juga kerap dilaporkan menjadi lokasi orangutan turun hingga ke tepi jalan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Jane diperkirakan berusia 15 hingga 20 tahun, sedangkan kedua bayinya diperkirakan berumur sekitar 2 hingga 3 tahun.
Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan satwa yang dilindungi dan berstatus Critically Endangered (Kritis) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Ancaman utama terhadap populasi orangutan di alam liar antara lain deforestasi, fragmentasi habitat, serta konflik dengan manusia akibat penyusutan kawasan hutan.
Penemuan induk orangutan dengan bayi kembar ini dinilai menjadi pengingat pentingnya upaya perlindungan habitat hutan tropis di Kalimantan demi keberlangsungan hidup satwa endemik lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0