Kadis Kominfo Kaltim: Literasi Digital Jadi Tantangan Utama, Media dan Penyiaran Harus Beradaptasi dengan AI Tanpa Kehilangan Perannya
KARTANEWS.COM, SAMARINDA – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, menegaskan bahwa penguatan literasi digital masyarakat menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah daerah di tengah derasnya arus informasi di era digital. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari satuan pendidikan hingga insan pers sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi yang benar, akurat, dan berimbang.
Hal tersebut disampaikan Ririn saat diwawancarai usai menghadiri kegiatan Jambore Radio dan Televisi se-Kalimantan Timur yang mengangkat tema "Penguatan Peran Radio dan Televisi Kalimantan Timur sebagai Media Informasi, Edukasi, dan Hiburan Berkualitas di Era Digital", hasil kolaborasi Komisi X DPR RI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Timur.
Menurut Ririn, perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat menuntut masyarakat memiliki kemampuan untuk memilah dan memahami informasi secara kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru maupun menyesatkan.
"Tantangan pertama kami di Diskominfo adalah penguatan literasi digital. Bagaimana kami membersamai masyarakat agar melek digital, mampu membaca sebuah informasi secara cerdas, memahami konteksnya, hingga mengetahui bagaimana memberikan respons yang tepat terhadap informasi yang diterima," ujarnya.
Ia menjelaskan, Diskominfo Kaltim secara aktif menggandeng berbagai sekolah, mulai dari tingkat SMP, SMA hingga SMK sebagai mitra dalam menyosialisasikan pentingnya literasi digital kepada generasi muda.
Melalui program tersebut, para pelajar diberikan pemahaman mengenai etika bermedia sosial, cara mengenali informasi yang valid, serta pentingnya menyampaikan informasi sesuai dengan norma, etika, dan ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, sekolah menjadi ruang strategis untuk membangun budaya digital yang sehat karena peserta didik merupakan kelompok yang paling aktif memanfaatkan media digital dalam kehidupan sehari-hari.
Selain dunia pendidikan, Ririn juga menilai media massa memiliki posisi yang sangat penting dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat di tengah masyarakat.
Ia mengajak seluruh media, khususnya media online, untuk terus menjaga profesionalisme dalam menjalankan fungsi jurnalistik dengan mengedepankan prinsip akurasi, verifikasi, dan keberimbangan dalam setiap pemberitaan.
"Kami juga menghimbau teman-teman media online, yang merupakan salah satu mitra utama kami, untuk terus membersamai pemerintah dalam menyampaikan informasi secara baik, tegas, dan akurat kepada masyarakat," katanya.
Ririn menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak menutup diri terhadap kritik yang disampaikan media maupun masyarakat. Namun demikian, apabila terdapat pemberitaan yang dinilai belum berimbang atau hanya memuat satu sudut pandang, pemerintah memiliki hak untuk menyampaikan klarifikasi melalui mekanisme hak jawab sebagaimana diatur dalam ketentuan pers.
Menurutnya, hak jawab merupakan instrumen penting untuk memastikan masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan sesuai fakta.
"Kalau ada pemberitaan yang sifatnya sepihak, kami menggunakan hak jawab untuk memberikan klarifikasi mengenai kronologi sebenarnya sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang lengkap," jelasnya.
Sebagai contoh, Ririn menyinggung polemik keterlambatan distribusi seragam sekolah yang sempat menjadi perhatian publik beberapa waktu lalu.
Ia mengakui pemerintah memang mengalami pergeseran jadwal distribusi akibat adanya sejumlah mekanisme administrasi yang harus dipenuhi.
Pemerintah, kata dia, memilih untuk menjelaskan kondisi tersebut secara terbuka kepada masyarakat melalui kerja sama dengan media cetak maupun media online.
"Kami tidak anti kritik. Kami juga meminta maaf ketika ada pergeseran jadwal yang semula direncanakan pada Juni atau Juli, namun harus bergeser menjadi Agustus karena ada beberapa mekanisme yang harus diselesaikan. Semua kronologinya kami sampaikan secara terbuka bersama teman-teman media," ungkapnya.
Lebih lanjut, Ririn menyampaikan apresiasi terhadap insan pers yang selama ini menjadi mitra pemerintah dalam menjaga kualitas informasi publik.
Ia mengaku telah merasakan langsung pentingnya peran media sejak menjabat di sektor pariwisata sebelum memimpin Diskominfo Kalimantan Timur.
"Selama saya sebelum di Kominfo, teman-teman media adalah mitra terbaik saya. Saat saya bertugas sekitar dua setengah tahun di sektor pariwisata, insan pers selalu membersamai kami melalui proses check and re-check sehingga informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar-benar dapat dipertanggungjawabkan," tuturnya.
Ririn menilai hubungan yang harmonis antara pemerintah dan media merupakan modal penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintah.
Sementara itu, terkait penyelenggaraan Jambore Radio dan Televisi se-Kalimantan Timur, Ririn memberikan apresiasi atas kolaborasi yang dibangun antara Komisi X DPR RI, BRIN, dan KPID Kalimantan Timur dalam menghadirkan forum yang membahas masa depan dunia penyiaran di era transformasi digital.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi yang relevan untuk memperkuat peran radio dan televisi di tengah perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat.
Ia berharap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dapat dimanfaatkan untuk memperkuat industri penyiaran, bukan justru menggantikan fungsi utama media penyiaran.
"Kami sangat mengapresiasi kegiatan rutin kolaborasi Komisi X DPR RI bersama BRIN. Tahun ini mengangkat tema penyiaran, khususnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada televisi dan radio. Harapan kami, kemajuan teknologi ini menjadi pendukung utama bagi perkembangan penyiaran, bukan mendisrupsi keberadaan televisi dan radio," ujarnya.
Menurut Ririn, kehadiran AI merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Namun, teknologi tersebut seharusnya menjadi alat bantu untuk meningkatkan kualitas produksi, penyebaran informasi, serta inovasi dalam industri penyiaran tanpa menghilangkan peran manusia sebagai penyampai informasi yang kredibel.
Ia optimistis radio dan televisi masih memiliki ruang yang besar di tengah perkembangan media digital selama mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan tetap menjaga kualitas konten yang disajikan kepada masyarakat.
"Di era disrupsi sekarang, ketika AI hadir di berbagai sektor, jangan sampai AI justru menggantikan fungsi televisi dan radio. Sebaliknya, AI harus menjadi pendukung bagi kemajuan penyiaran sehingga teknologi dan media penyiaran bisa saling menguatkan," pungkasnya. (IRLA/daa)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0