MPR RI Goes to Campus di Unmul, Eddy Soeparno Dorong Percepatan Transisi Energi dan Penguatan Ketahanan Nasional
KARTANEWS.COM, SAMARINDA — Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mendorong percepatan transisi energi dan penguatan ketahanan energi nasional sebagai langkah strategis menghadapi ancaman krisis energi dan krisis iklim. Hal itu disampaikannya saat menghadiri kegiatan MPR RI Goes to Campus di Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (2/9/2026).
Dalam pemaparannya di hadapan sivitas akademika dan mahasiswa Unmul, Eddy menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan erat dengan ketersediaan energi. Aktivitas industri, transportasi, rumah tangga hingga pelayanan publik membutuhkan pasokan energi yang stabil dan berkelanjutan.
Namun, menurutnya, kebutuhan energi yang terus meningkat tidak boleh membuat Indonesia mengabaikan agenda dekarbonisasi. Penggunaan energi fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas, masih menjadi bagian besar dari bauran energi nasional dan menghasilkan emisi karbon yang berkontribusi terhadap krisis iklim.
Eddy menyebut ketergantungan terhadap energi fosil juga membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik global. Gangguan rantai pasok energi, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah, dapat memengaruhi ketersediaan dan harga minyak maupun gas.
"Indonesia hari ini menghadapi krisis energi. Rantai pasok terganggu semua," ujar Eddy dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, gangguan pada sektor energi tidak berhenti pada persoalan ketersediaan bahan bakar. Dampaknya dapat merambat ke berbagai sektor perekonomian, mulai dari industri, transportasi hingga kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Kenaikan harga minyak mentah dan produk turunannya, kata Eddy, dapat meningkatkan harga berbagai komoditas seperti plastik, pupuk, obat-obatan dan tekstil. Kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat dan mendorong inflasi.
"Ini mata rantai yang tidak berhenti di sektor energi saja, tetapi masuk ke sektor perekonomian kita secara keseluruhan," katanya.
Ketergantungan Impor Dinilai Perlu Dikurangi
Eddy juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Menurut dia, meskipun Indonesia memiliki sumber daya energi fosil dan energi terbarukan yang melimpah, sebagian kebutuhan energi nasional masih dipenuhi melalui impor.
Ia mencontohkan kebutuhan BBM yang banyak bergantung pada pasokan dari negara lain. Begitu pula dengan LPG yang sebagian besar kebutuhannya masih harus dipenuhi melalui impor.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih rentannya ketahanan energi Indonesia.
"Artinya kita sangat rentan," tegasnya.
Menurut Eddy, ketergantungan terhadap impor energi bukan hanya berisiko ketika terjadi gangguan rantai pasok global, tetapi juga memberikan tekanan terhadap devisa dan fiskal negara.
Ia menilai persoalan tersebut perlu dijawab melalui penguatan produksi energi dalam negeri sekaligus percepatan pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Indonesia, kata dia, memiliki modal besar untuk melakukan hal tersebut. Selain memiliki cadangan batu bara, minyak dan gas, Indonesia juga mempunyai potensi energi surya, angin, air, bioenergi dan panas bumi yang besar.
"Kita ini negara kaya. Fosilnya punya banyak, sumber energi terbarukannya juga punya banyak," ujarnya.
Transisi Energi Tiga Tahap
Eddy memaparkan strategi transisi energi Indonesia yang menurutnya perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari jangka pendek, menengah hingga panjang.
Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memperkuat elektrifikasi, termasuk memperluas penggunaan kendaraan listrik dan transportasi publik berbasis listrik.
Sementara dalam jangka menengah, Indonesia perlu meningkatkan pemanfaatan bioenergi. Pengembangan biodiesel, menurut Eddy, merupakan salah satu langkah yang sudah dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Sedangkan dalam jangka panjang, Indonesia perlu mulai mengembangkan sumber energi baru seperti hidrogen dan nuklir.
"Jadi elektrifikasi satu, kedua bioenergi kita tingkatkan, dan jangka panjang kita kemudian mengembangkan sumber energi baru, hidrogen dan nuklir," jelasnya.
Eddy menilai energi nuklir dapat menjadi salah satu opsi untuk mendukung keandalan pasokan energi nasional. Menurutnya, Indonesia membutuhkan sumber energi yang mampu menjamin ketersediaan pasokan dalam negeri secara berkelanjutan.
Subsidi Energi Perlu Tepat Sasaran
Selain persoalan sumber energi, Eddy juga menyoroti tata kelola subsidi energi. Ia menilai subsidi energi perlu diarahkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Menurut Eddy, subsidi yang tidak tepat sasaran dapat mengurangi ruang fiskal pemerintah yang seharusnya dapat digunakan untuk membiayai sektor pembangunan lainnya.
Ia menekankan pentingnya melakukan penyesuaian besaran subsidi sekaligus memastikan penerimanya tepat sasaran.
"Subsidi ini bisa kemudian dilakukan rightsizing dan right targeting. Angkanya kita sesuaikan dengan kebutuhannya dan kita targetkan kepada mereka-mereka yang memang membutuhkan," katanya.
Eddy menyebut Kalimantan Timur memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu daerah penting dalam pengembangan energi terbarukan nasional.
Menurutnya, Kaltim memiliki potensi bioenergi, energi surya serta sumber daya lain yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari transisi energi.
"Saya melihat bahwa Kalimantan Timur memiliki peluang yang besar yang tidak kalah dengan daerah-daerah yang lain di seluruh Indonesia," kata Eddy.
Ia berharap pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan di Kalimantan Timur dapat mempercepat akselerasi transisi energi dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia.
Kampus Diminta Berkontribusi
Di hadapan mahasiswa, Eddy juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadapi krisis energi dan krisis iklim.
Menurutnya, kampus memiliki posisi strategis karena gagasan dan solusi yang dihasilkan berasal dari penelitian serta berbasis data. Karena itu, ia berharap perguruan tinggi dapat memberikan kontribusi nyata dalam merumuskan kebijakan transisi energi.
"Kami juga menunggu kiranya apa yang bisa dikontribusikan oleh kampus untuk penanganan krisis iklim melalui transisi energi sekaligus menguatkan ketahanan energi kita," ujarnya.
Eddy juga mengingatkan bahwa persoalan lingkungan saat ini telah memasuki tahap yang lebih serius. Ia memilih menggunakan istilah "krisis iklim" dibandingkan sekadar perubahan iklim untuk menggambarkan kondisi yang sedang dihadapi dunia.
Menurutnya, mencairnya es abadi di Pegunungan Jayawijaya menjadi salah satu tanda nyata perubahan kondisi lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Ia menilai Indonesia masih memiliki kesempatan untuk mengubah arah tersebut melalui percepatan transisi energi, pengurangan emisi karbon dan penguatan ketahanan energi nasional.
"Jangan sampai kita berada di titik di mana seperti yang tadi disampaikan di dalam video, Pegunungan Carstensz, itu adalah Pegunungan Jayawijaya yang menjadi kebanggaan kita karena ada salju abadi, hari ini salju abadinya tinggal sisa 5 persen," tuturnya.
Di akhir pemaparannya, Eddy mengajak mahasiswa Unmul untuk mengambil peran dalam menghadapi tantangan energi dan iklim. Menurutnya, transisi energi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kontribusi seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda dan perguruan tinggi.
"Mudah-mudahan apa yang disampaikan bisa bermanfaat untuk kita dan bisa juga menjadi inspirasi bagi para mahasiswa untuk memberikan kontribusi nyata dalam penanganan krisis energi dan krisis iklim yang kita hadapi," pungkasnya. (Irla)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0