Titik Panas Melonjak Akibat El Nino, Pemkab Berau Minta Perusahaan Swasta Turun Tangan
KARTANEWS.COM, BERAU – Peningkatan suhu ekstrem akibat fenomena El Nino memicu lonjakan ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur. Catatan Pemkab Berau menunjukkan, jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Kaltim melonjak tajam hingga menyentuh 277 titik.
Kondisi kritis tersebut disampaikan Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, saat memimpin rapat koordinasi penanganan Karhutla bersama jajaran Forkopimda dan perwakilan perusahaan swasta setempat. Sri Juniarsih menegaskan bahwa situasi di lapangan sudah sangat mengkhawatirkan dan menjadi atensi khusus dari pemerintah pusat.
"Risiko Karhutla di tengah cuaca panas El Nino ini sangat tinggi. Baru saja kami memadamkan api di Kampung Lahanan, Kecamatan Teluk Bayur, serta beberapa titik lain. Saat ini Kaltim dikepung 277 titik panas," ujar Sri Juniarsih, Rabu (19/8/2026).
Dalam paparannya, Sri Juniarsih membeberkan sejumlah kendala krusial yang dihadapi tim gabungan penanganan Karhutla—mulai dari BPBD, TNI-Polri, Damkar, Manggala Agni, hingga relawan. Selain lokasi titik api yang jauh dan sulit dijangkau, jumlah sarana dan prasarana (sarpras) pemadam saat ini terbatas dibandingkan luas wilayah yang rawan.
"Sarpras yang ada sekitar 52 unit dan tersebar di 13 kecamatan. Jumlah itu belum mencukupi ketika kebakaran terjadi bersamaan di beberapa lokasi. Kami juga menghadapi krisis sumber air dan keterbatasan BBM untuk operasional armada," bebernya.
Mengingat anggaran Pemkab yang sedang mengalami efisiensi, Sri Juniarsih secara terbuka "mengetuk hati" para pimpinan perusahaan swasta di sektor perkebunan sawit, konsesi hutan, hingga pertambangan agar turut berkontribusi.
"Saya meminta dan mengimbau komitmen seluruh perusahaan untuk turun tangan. Bantuan personel, peralatan, hingga pasokan BBM sangat dibutuhkan oleh tim yang bekerja siang malam di lapangan," tegasnya.
Ia juga meminta utusan perusahaan yang hadir dalam rapat untuk segera mengonfirmasi komitmen penanganan bencana melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK). Pemkab Berau siap memberikan apresiasi bagi perusahaan yang aktif, namun tidak segan memberlakukan sanksi tegas bagi pihak yang lalai menjaga kawasan konsesinya.
Sri Juniarsih mengingatkan bahwa ancaman Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan biasa. Jika tidak ditanggulangi bersama, dampaknya dapat merusak kesehatan masyarakat, melumpuhkan transportasi, hingga menekan perekonomian daerah. Ia menyinggung peristiwa tahun 2019 saat kabut asap pekat sempat melumpuhkan aktivitas penerbangan di Berau.
"Kita sedang bertransisi meningkatkan sektor pariwisata, yang sangat bergantung pada kelancaran penerbangan. Jika Karhutla berulang seperti tahun 2019 hingga pesawat gagal mendarat, program pariwisata akan terganggu," pungkasnya.(Adv/Rein)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0