Disdik Berau Resmi Luncurkan Kurikulum Bahasa Banua untuk Jenjang SMP

Jul 2, 2026
Disdik Berau Resmi Luncurkan Kurikulum Bahasa Banua untuk Jenjang SMP
Launching Kurikulum Bahasa Banua Dinas Pendidikan Kabupaten Berau (Rein/KN)

KARTANEWS.COM, BERAU – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau resmi meluncurkan Kurikulum Bahasa Banua untuk siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada Kamis (02/07/2026). 

Kepala Disdik Berau, Mardiatul Idalisah, menekankan agar para tenaga pendidik benar-benar memahami nilai-nilai budaya yang harus ditanamkan kepada siswa pasca-peluncuran kurikulum ini.

"Yang pertama, tentunya pengajar harus memperhatikan bahan ajar atau modul yang sudah kita luncurkan. Modul itulah yang nantinya digunakan sebagai acuan utama dalam proses belajar mengajar," ujar Mardiatul.

Target Perluasan ke Jenjang SD dan SMA

Disdik Berau menargetkan program ini dapat segera diperluas ke jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada tahun depan. Untuk mendukung rencana tersebut, regulasi khusus yang mewajibkan penggunaan bahasa daerah di lingkungan sekolah saat ini tengah digodok.

"Kami telah menunjuk koordinator serta guru-guru yang kompeten untuk mengawal mata pelajaran ini," tuturnya.

Selain itu, Disdik juga sedang menyusun formulasi agar program ini sinkron dengan kurikulum nasional. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang memiliki latar belakang budaya Berau, ataupun guru lain yang memiliki minat kuat, akan diberdayakan untuk mengajar Bahasa Banua.

Kebijakan ini dinilai membawa dampak positif ganda bagi Kabupaten Berau. Selain menjadi instrumen pelestarian budaya, pemenuhan jam mengajar Bahasa Banua juga menjadi solusi bagi para guru yang kekurangan jam mengajar agar dapat memenuhi kuota wajib mereka.

Khawatir Punah, Penutur Aktif Hanya 4 Persen

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said, membeberkan data memprihatinkan terkait eksistensi bahasa lokal ini. Saat ini, penutur Bahasa Banua di Bumi Batiwakkal tercatat hanya sekitar 11.200 jiwa dari total 300.000 penduduk Berau.

Jika dipersentasekan, hanya berkisar 3 hingga 4 persen saja masyarakat yang masih aktif menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

"Artinya, yang tersisa dan masih menuturkan Bahasa Banua dalam kesehariannya mungkin hanya sekitar 3 atau 4 persen. Kita khawatir, dengan semakin sedikitnya penutur, bahasa lokal ini lama-kelamaan akan punah," ungkap Muhammad Said.

Faktor Usia dan Putusnya Pewarisan Bahasa

Said menilai kemunduran jumlah penutur ini sangat dipengaruhi oleh faktor usia dan minimnya pewarisan bahasa di lingkungan keluarga. Dia melihat, banyak generasi muda yang lahir dan besar di Berau, bahkan dari orang tua asli Banua justru tidak lagi memahami bahasa daerah mereka sendiri.

"Justru penuturnya semakin sedikit karena faktor usia. Banyak siswa baru yang orang tuanya lahir di Berau, lahir di Banua, tetapi belum tentu paham lagi bahasa tersebut," jelasnya.

Meski demikian, Said menegaskan bahwa Kabupaten Berau sangat beruntung karena memiliki kekayaan bahasa lokal yang khas dan berbeda dari rumpun bahasa lain di Indonesia. 

Di tengah arus modernisasi dan heterogenitas daerah yang mulai kehilangan identitas lokalnya, Pemkab Berau berkomitmen penuh menjaga warisan budaya ini.

Melalui sosialisasi dan formalisasi kurikulum di tingkat SMP, pemerintah daerah berharap para siswa minimal dapat mengenal, memahami kosakata, serta memperkaya perbendaharaan Bahasa Banua.

"Kita bersyukur di Kabupaten Berau ini masih ada bahasa lokal, Bahasa Banua, yang berbeda dengan rumpun lainnya. Ini momentum yang sangat baik. Dengan disosialisasikannya kurikulum ini, minimal anak didik kita tahu kosakata dan perbendaharaan bahasa lokal mereka sendiri," pungkasnya. (REIN/daa)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0