Kelompok Perempuan di Kampung Pegat Betumbuk Berau, Sulap Kepala Udang Jadi Ladang Cuan

Jun 11, 2026
Kelompok Perempuan di Kampung Pegat Betumbuk Berau, Sulap Kepala Udang Jadi Ladang Cuan
Produk UMKM Kampung Pegat Betumbuk (Istimewa)

KARTANEWS.COM, BERAU – Kelompok perempuan pesisir di Kampung Pegat Batumbuk, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, berhasil mengubah limbah kepala udang menjadi produk camilan bernilai ekonomis tinggi bernama "Uludang Crispy".

​Inovasi yang diinisiasi oleh Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Kerjasama Jaya ini sukses mengubah bagian udang yang biasanya dibuang dan menjadi sampah produksi, menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga di kawasan pesisir.

​Ketua Poklahsar Kerjasama Jaya, Riska Febriani, mengungkapkan bahwa produk ini lahir dari proses belajar dan pendampingan terstruktur. 

"Selama ini kepala udang sering kali tidak dimanfaatkan. Melalui pendampingan, kami mencoba memanfaatkan bahan yang sebelumnya dianggap limbah menjadi produk yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.

​Pengembangan Uludang Crispy ini didukung penuh oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Dinas Perikanan Kabupaten Berau melalui program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE). 

Para perempuan pesisir dibekali pelatihan mulai dari manajemen usaha, pengemasan, strategi pemasaran, hingga pencatatan keuangan.

Kantongi Sertifikat Halal dan Tembus Pasar Oleh-Oleh

​Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen, Poklahsar Kerjasama Jaya memastikan produk Uludang Crispy telah dilengkapi dengan perizinan usaha resmi dan sertifikat halal.

​Saat ini, pemasaran Uludang Crispy tidak lagi terbatas di dalam kampung, melainkan telah menembus sejumlah toko oleh-oleh di Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkenalkan produk olahan pesisir kepada wisatawan yang berkunjung ke Berau.

​Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid, memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan ini. Menurutnya, inovasi nilai tambah (value added) menjadi faktor krusial dalam meningkatkan daya saing usaha perikanan masyarakat.

​"Inovasi seperti ini menunjukkan masyarakat mampu melihat peluang dari bahan yang belum dimanfaatkan maksimal. Upaya ini perlu terus didorong karena memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan," kata Abdul Majid.

​Selain dampak ekonomi, inovasi ini juga memegang misi lingkungan. Manajer Senior Ekonomi Biru YKAN, Kiki Anggraini, menjelaskan bahwa pemberdayaan perempuan adalah kunci dalam membangun ekonomi pesisir yang tangguh.

​"Perempuan memiliki peran besar dalam rantai nilai perikanan. Kami ingin memperkuat kapasitas mereka agar mampu mengembangkan inovasi berbasis sumber daya lokal secara berkelanjutan," tutur Kiki.

​Program ini diintegrasikan dengan pendekatan ekonomi biru melalui konsep Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE). Konsep ini memadukan budi daya udang ramah lingkungan dengan perlindungan serta pemulihan ekosistem mangrove. 

Melalui pendekatan SECURE, sebagian area tambak dikembalikan fungsinya sebagai hutan mangrove yang bertindak sebagai penyerap karbon dan pelindung pantai alami, sementara area budi daya dikelola tanpa merusak lingkungan.

​Dengan kemasan yang makin memikat, legalitas yang sah, dan prinsip keberlanjutan alam, Uludang Crispy kini diproyeksikan menjadi produk unggulan baru dari pesisir Berau yang siap bersaing di pasar regional maupun nasional.(Rein/daa) 

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0