Bandara Sepinggan Balikpapan Mengalami Penurunan Jumlah Penumpang
KARTANEWS.COM, BALIKPAPAN – Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan dinilai mengalami penurunan drastis jumlah penumpang yang melakukan penerbangan.
General Manager Bandara SAMS Balikpapan, Iwan Winaya Mahdar, mengungkapkan bahwa tingkat pergerakan penumpang saat ini mengalami penyusutan yang cukup terasa dibandingkan periode sebelumnya.
"Jika sebelumnya jumlah penumpang mencapai 14-15 ribu orang per hari, kini turun menjadi sekitar 9-11 ribu orang per hari. Pada akhir pekan, rata-rata tercatat sekitar 12 ribu penumpang," ungkap Iwan, seperti dilansir dari laman resmi Pemprov Kaltim.
Lebih lanjut, Iwan menjelaskan bahwa meroketnya harga tiket penerbangan ini sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik global yang memicu lonjakan harga avtur dunia.
Sebagai gambaran, tarif penerbangan untuk rute Balikpapan–Jakarta yang normalnya berada di kisaran Rp1,1 juta, kini melambung menyentuh angka Rp1,7 juta hingga Rp2 juta per penumpang.
Ketahanan Pariwisata vs Lesunya Perhotelan
Di tengah badai harga tiket transportasi udara, sektor pariwisata Kaltim diklaim masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim, Ririn Sari Dewi, memaparkan bahwa pergerakan wisatawan sepanjang April hingga Mei 2026 masih mencatat angka positif.
"Kunjungan wisatawan nusantara telah mencapai sekitar 1,1 juta kunjungan. Sementara wisatawan mancanegara tercatat lebih dari 10 ribu kunjungan, dengan pasar utama berada di Kabupaten Berau, Kutai Barat (Kubar), Mahakam Ulu (Mahulu), dan Kutai Kartanegara (Kukar)," jelas Ririn.
Kendati angka kunjungan wisata secara makro terlihat stabil, dampak dari mahalnya biaya perjalanan ini memukul langsung para pelaku usaha akomodasi dan event. Tingkat hunian (okupansi) hotel di sejumlah daerah dilaporkan lesu dan belum mampu menyentuh angka 30 persen.
Selain itu, sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) juga ikut terpuruk akibat maraknya kebijakan efisiensi anggaran, yang membuat kegiatan pemerintah maupun perusahaan swasta berkurang drastis.
Untuk menjaga daya saing industri pariwisata Kaltim, Ririn mendorong adanya intervensi dari pemerintah pusat berupa subsidi tiket pesawat. Ia juga menekankan pentingnya penguatan kolaborasi antara pelaku wisata, manajemen perhotelan, dan Online Travel Agent (OTA) seperti Traveloka, Agoda, dan platform sejenis.
Bayang-bayang Inflasi dan Strategi Adaptif
Dari kacamata ekonomi makro, mahalnya tarif transportasi udara ini menjadi alarm kewaspadaan bagi daerah. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menegaskan bahwa tiket pesawat merupakan salah satu komponen utama yang kerap memicu inflasi di daerah.
"Karena itu, pengendalian inflasi terus diperkuat melalui sinergi antara Bank Indonesia, Pemprov Kaltim, dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID)," tegas Bayuadi.
Menanggapi fenomena ini, Dekan Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Politik Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Farid Wajdi, memberikan pandangannya. Ia menilai bahwa lonjakan harga tiket pesawat yang dipicu oleh konflik geopolitik dan harga minyak dunia adalah faktor eksternal yang berada di luar kendali pemerintah daerah.
"Oleh karena itu, diperlukan strategi yang sangat adaptif agar sektor pariwisata dan penerbangan daerah tetap mampu bertahan dan beroperasi maksimal di tengah ketidakpastian tantangan ekonomi global saat ini," pungkasnya.(Rein/daa)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0