Melepas Kemapanan Demi Membebaskan Jiwa: Cerita Pak Arie yang Memilih Menanam Kopi Setelah 17 Tahun Bekerja di Tambang
KARTANEWS.COM, BERAU– Tetesan keringat di bawah terik matahari tampak membasahi wajah Abdul Rahman Ismail usai beraktivitas di kebunnya. Pria paruh baya yang akrab disapa Pak Arie itu adalah sosok di balik hamparan perkebunan kopi yang terletak di Kampung Sembakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau.
Pada hari Rabu (15/07/2026), Kartanews berkesempatan mengunjungi kebun kopi miliknya. Kunjungan ini bukan sekadar menikmati secangkir kopi asli langsung dari kebunnya, melainkan untuk menggali kisah menarik tentang alasan kuat di balik keputusan Pak Arie memilih kopi sebagai jalan hidup barunya yang kental akan nuansa Spiritual.
Perjalanan Menuju Kemerdekaan
Bagi sebagian orang, kemapuan finansial adalah segalanya. Namun bagi Pak Arie, kenyamanan bekerja selama 17 tahun di industri pertambangan batu bara justru terasa bagai "penjara" yang memasung jiwa.
Di tengah kepulan debu tambang, sebuah mimpi tentang kebebasan dan aroma kopi mulai tumbuh subur. Kini, di Kampung Sembakungan, mimpi itu mewujud menjadi barisan hijau pohon kopi jenis Liberika, lengkap dengan tempat peristirahatan estetik yang ia beri nama "Area Istirahat Parisau.
Sejak tahun 2002 hingga 2019, hari-hari Pak Arie dihabiskan di bawah aturan ketat perusahaan tambang. Secara finansial ia mengaku mapan, namun batinnya bergejolak. Sebagai pria dengan latar belakang seni (seni), rutinitas tambang yang kaku terasa sangat menyesakkan.
"Secara pribadi, saya menganggap dunia tambang itu seperti penjara. Jiwa seni saya menuntut kebebasan. Saya ingin melakukan sesuatu tanpa harus terus-menerus diatur orang lain," kenang Pak Arie.
Selain panggilan jiwa, ada kekhawatiran tentang masa pensiun. Jika bertahan hingga usia 55 tahun, ia khawatir fisiknya tak lagi kuat untuk memulai hidup baru sebagai petani dari nol.
Mengantongi restu sang istri serta uang pesangon, pada tahun 2019 Pak Arie resmi menanggalkan helm tambangnya demi mengejar tekad kuat menanam kopi.
Bermodal Nekat dan Semangat Gotong Royong
Langkah awal Pak Arie tidaklah mudah. Sebagai pria asal pesisir Sulawesi Barat, ia mengaku sama sekali tidak memiliki latar belakang pertanian dan sempat bingung mengenai pertanyaan yang cocok untuk ditanam.
Titik balik kehidupan terjadi saat ia bertemu dengan komunitas peduli lingkungan dan tim pendamping desa. Melalui diskusi hangat, ia mulai mengenal potensi besar kopi jenis Liberika.
Dari diskusi itu pula, ia mendapatkan informasi mengenai lokasi perburuan bibit kopi yang ideal. Berbekal informasi dari para kolega, ia pun bertolak ke Kecamatan Talisayan demi berburu buah ceri kopi terbaik.
“Waktu itu kami mencari bibit kopi ke Talisayan, kebetulan di sana ada jenis yang bagus,” katanya.
Takdir yang Menuntun
Pada awal merintis, Pak Arie dihadapkan pada keterbatasan modal lahan. Karena belum memiliki tanah sendiri, ia terpaksa menumpang di lahan milik temannya untuk menyemai bibit tanaman. Namun, kerja keras dan kesabaran memang tidak pernah menghasilkan hasil yang baik.
Keberuntungan tiba-tiba berpihak padanya saat lahan kosong tepat di sebelah tempat persemaiannya hendak dijual oleh sang pemiliknya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan emas, Pak Arie langsung mengambil langkah berani dengan membeli lahan tersebut menggunakan seluruh uang pesangon tambangnya.
Investasi nekat itu kini resmi menjadi modal awal dia untuk membangun impian secara mandiri di atas tanah sendiri.
"Karena belum punya lahan, awalnya terpaksa menyemai di tanah teman. Waktu itu, sepertinya Allah sudah takdirkan keberuntungan berpihak ke saya. Saat tanah di sebelah tempat semai dijual, saya langsung mengeluarkan uang pesangon tambang," ucapnya penuh syukur.
Menyelamatkan Sejarah Kopi Berau
Ada misi mulia yang digotong Pak Arie. Kopi Liberika di Talisayan saat itu terancam punah karena sebagian besar petaninya sudah lanjut usia tanpa ada generasi penerus. Lebih dari sekedar pelestarian, ia juga khawatir memikirkan nasib Berau jika suatu saat nanti cadangan batu bara habis.
Ia bermimpi Sembakungan bisa bertransformasi menjadi sentra ekonomi baru pascatambang. Hingga kini, sekitar 10.000 pohon kopi telah berhasil ditanam. Menariknya, bibit-bibit kopi hasil budidayanya juga didistribusikan secara gratis sebagai aksi sosial ke berbagai daerah di Berau hingga Kalimantan Utara.
Parisau Rest Area dan Filosofi Hidup
Di lahan barunya, Pak Arie kemudian membangun"Area Istirahat Parisau. Terletak di jalur strategis menuju destinasi wisata dunia Kepulauan Derawan, tempat ini dirancang secara mandiri dengan sentuhan seni pribadinya.
Berkat semangat gotong royong dari rekan-rekannya yang menyumbangkan materi, ia sukses membangun musala unik dan tempat singgah yang nyaman bagi para pelancong. Bagi Pak Arie, seluruh perjalanan berliku ini adalah pembuktian dari filosofi hidup yang dipegang teguh.
"Tugas kita hanya bermusuhan dan bersyukur. Masalah hasil, itu urusan Tuhan. Selagi niat kita untuk membantu orang dan kebaikan, yakinlah bukan tangan kita yang bekerja, tapi tangan Tuhan lah yang mengarahkan semua. Hari ini orang-orang datang, karena saya sudah menyiapkan kopinya," tandasnya.
Melalui secangkir kopi Liberika, Pak Arie berhasil membuktikan bahwa kehidupan baru yang merdeka dan berdaulat selalu bisa dimulai, bahkan setelah belasan tahun terkubur di kedalaman perut tambang.(REIN/daa)
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0