Festival Mooncake 2026 di Samarinda Tekankan Harmoni dan Kerukunan

Sep 30, 2026
Festival Mooncake 2026 di Samarinda Tekankan Harmoni dan Kerukunan
Perayaan Festival Mooncake 2026 di Samarinda (Irla/KN)

KARTANEWS.COM, SAMARINDA – Perayaan Festival Mooncake 2026 di Kelenteng Thien Ie Kong Samarinda berlangsung selama lima hari, 23–27 September 2026. Kegiatan tahunan tersebut tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi momentum memperkuat harmoni, kerukunan, dan kohesi sosial di tengah keberagaman masyarakat Kota Samarinda.

Rangkaian perayaan yang digelar di lingkungan Kelenteng Thien Ie Kong tersebut ditutup pada Minggu, 27 September 2026. Kegiatan turut mendapat apresiasi dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Samarinda dan Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Kota Samarinda.

Ketua FKUB Samarinda sekaligus Ketua TWAP Kota Samarinda, Saparuddin, mengatakan perayaan Mooncake merupakan kegiatan positif yang mencerminkan keberagaman tradisi dan budaya yang hidup di Kota Samarinda.

Menurutnya, Samarinda merupakan kota dengan masyarakat yang heterogen, baik dari sisi agama, budaya maupun tradisi. Karena itu, berbagai kegiatan kebudayaan yang tumbuh di tengah masyarakat perlu mendapat ruang untuk berkembang secara harmonis.

“FKUB dan pemerintah kota mengapresiasi kegiatan ini sebagai wujud bahwa Samarinda adalah kota yang sangat heterogen dan beragam. Ada beragam tradisi, agama, seni dan budaya serta akulturasi budaya yang hidup dan berkembang di Kota Samarinda,” ujar Saparuddin.

Ia menjelaskan, keberadaan Festival Mooncake juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Selain menghadirkan hiburan, kegiatan tersebut turut membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas masyarakat selama festival berlangsung.

Saparuddin menyebut, nilai utama yang terkandung dalam perayaan Mooncake bukan semata-mata hiburan, melainkan tradisi untuk mengungkapkan rasa syukur.

Dalam konteks sejarah dan budaya Tionghoa, perayaan tersebut berkaitan dengan rasa syukur atas hasil panen. Namun dalam perkembangan kehidupan masyarakat saat ini, makna syukur tersebut dapat dimaknai lebih luas, termasuk atas capaian kehidupan dan usaha yang telah dijalani.

“Setiap bulan purnama mereka mewujudkan rasa syukur itu dengan acara perayaan Mooncake. Jadi, bukan hanya sekadar perayaan, tetapi ada nilai syukur yang terkandung di dalamnya,” katanya.

Selain rasa syukur, menurut Saparuddin, terdapat pesan penting lainnya dalam perayaan Mooncake, yakni harmoni. Secara historis, perayaan tersebut menjadi momentum untuk berkumpul bersama keluarga dan memperkuat ikatan kekeluargaan.

Seiring perkembangan zaman, nilai tersebut kemudian diperluas menjadi pesan harmoni yang tidak hanya berada dalam lingkup keluarga, tetapi juga masyarakat dan kehidupan berbangsa.

“Kalau dari aspek sejarah, sesungguhnya ini merupakan upaya untuk mengumpulkan keluarga agar selalu bersatu dalam satu ikatan keluarga. Kemudian dengan perubahan zaman, tema harmoni itu diperluas menjadi harmoni keluarga, harmoni Samarinda, harmoni Indonesia, kita satu keluarga bumi,” jelasnya.

Menurutnya, pesan tersebut relevan dengan kondisi Samarinda sebagai kota yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang agama, suku dan budaya. Keragaman tersebut, kata dia, dapat menjadi kekuatan apabila dibangun melalui semangat saling menghormati dan hidup berdampingan.

Saparuddin berharap perayaan seperti Festival Mooncake dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan sosial masyarakat.

Ia menilai, kegiatan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dapat menjadi ruang perjumpaan sekaligus mempererat hubungan antarkelompok di tengah keberagaman Kota Samarinda.

“Mudah-mudahan perayaan seperti ini terus bisa dilakukan dalam rangka mengikat kohesi sosial masyarakat kita. Dengan harmoni, kekompakan, kekerabatan dan semangat persaudaraan, kita bisa membangun daerah ini lebih maju dan lebih kuat,” pungkasnya.

Ia menambahkan, semangat kebersamaan dan gotong royong perlu terus dipelihara sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Samarinda yang majemuk.

Festival Mooncake 2026 di Kelenteng Thien Ie Kong pun menjadi salah satu ruang budaya yang mempertemukan tradisi, hiburan, aktivitas ekonomi masyarakat, serta pesan kebersamaan dalam kehidupan sosial Kota Samarinda. (Irla) 

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0