<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
     xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
     xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
     xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">
<channel>
<title>Kartanews &#45; : Adat Budaya</title>
<link>https://kartanews.com/rss/category/adat-budaya</link>
<description>Kartanews &#45; : Adat Budaya</description>
<dc:language>en</dc:language>
<dc:rights>@PT Digitalindo Media Utama &#45; kartanews.com</dc:rights>

<item>
<title>Saksi Bisu Sejarah Berau: Keraton Sambaliung Perkuat Identitas Geopark Sangkulirang&#45;Mangkalihat</title>
<link>https://kartanews.com/saksi-bisu-sejarah-berau-keraton-sambaliung-perkuat-identitas-geopark-sangkulirang-mangkalihat</link>
<guid>https://kartanews.com/saksi-bisu-sejarah-berau-keraton-sambaliung-perkuat-identitas-geopark-sangkulirang-mangkalihat</guid>
<description><![CDATA[ BARAU – Tim penilai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat mengunjungi Keraton Sambaliung, salah satu situs cagar budaya di Kabupaten Berau, Jumat (10/7/2026). ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202607/image_870x580_6a51fb5ca1480.jpg" length="452802" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sat, 11 Jul 2026 16:15:26 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><b><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">KARTANEWS.COM, BERAU</span></span></b><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> – Tim penilai Geopark Sangkulirang-Mangkalihat mengunjungi Keraton Sambaliung, salah satu situs cagar budaya di Kabupaten Berau, Jumat (10/7/2026).</span></span><br><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Rombongan disambut kerabat Kesultanan Sambaliung dan dipandu Datu Rizal, keturunan langsung Raja pertama Kesultanan Sambaliung.</span></span><br><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Ia menjelaskan sejarah berdirinya kesultanan yang lahir dari perpecahan Kerajaan Berau pada awal abad ke-19 serta perjuangan Sultan Alimuddin yang menolak campur tangan dan monopoli perdagangan Hindia Belanda hingga diasingkan ke Makassar pada tahun 1834.</span></span><br><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">“Keraton Sambaliung tidak hanya menjadi saksi sejarah Kesultanan Sambaliung, tetapi juga mencerminkan perjuangan para pemimpin Berau dalam mempertahankan kedaulatan daerah,” ungkapnya.  </span></span><br><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Usai Indonesia merdeka, di bawah kepemimpinan Sultan Muhammad Aminuddin, Kesultanan Sambaliung menyatakan bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sehingga wilayahnya menjadi bagian dari Kabupaten Berau.</span></span><br><br><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Kunjungan ini menjadi bagian dari penilaian aspek warisan budaya Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.</span></span></p>
<p><span;></span;><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Melalui penilaian ini, Keraton Sambaliung diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu warisan budaya yang memperkuat identitas Geopark Sangkulirang-Mangkalihat serta menjadi daya tarik wisata sejarah di Kabupaten Berau. <strong>(REIN/daa)</strong></span></span><br><span;><span;><span;><span;><span;><span;><span;><span;><!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_260711_161022_835.sdocx--></span;></span;></span;></span;></span;></span;></span;></span;></p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Menolak Lupa: Jejak Lima Tokoh Perempuan yang Membentuk Peradaban Kalimantan Timur</title>
<link>https://kartanews.com/menolak-lupa-jejak-lima-tokoh-perempuan-yang-membentuk-peradaban-kalimantan-timur</link>
<guid>https://kartanews.com/menolak-lupa-jejak-lima-tokoh-perempuan-yang-membentuk-peradaban-kalimantan-timur</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202604/image_870x580_69edbe7b43f43.jpg" length="516482" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sun, 26 Apr 2026 15:29:37 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 18px;" ;=""><b>KARTANEWS.COM, SAMARINDA</b></span><span style="font-size: 18px;" ;=""> – Sejarah sering kali mencatat narasi besar melalui kacamata maskulin, namun realitas di Kalimantan Timur (Kaltim) berbicara lain. Sosok s</span><span style="font-size: 18px;" ;="">ejarawan Kaltim, Muhammad Sarip, membedah rekam jejak lima tokoh perempuan fenomenal yang menjadi pilar penting dalam membangun kesadaran berbangsa dan kemajuan pendidikan di Bumi Etam.</span><br><span style="font-size: 18px;" ;="">​</span><br><span style="font-size: 18px;" ;="">Dalam pemaparannya di Samarinda, Minggu (26/4/2026), Sarip menekankan bahwa kontribusi perempuan di Kaltim bukan sekedar pendamping, melainkan penggerak utama di garis depan.</span><br><span style="font-size: 18px;" ;=""> </span><br><span style="font-size: 18px;" ;="">"Kelima perempuan ini membuktikan bahwa kaum hawa memiliki andil, kapasitas kepemimpinan, dan keberanian yang luar biasa di berbagai lintas zaman," ungkapnya.</span><br><span style="font-size: 23px;" ;=""><b>​</b></span><br><b><span style="font-size: 17px;" ;="">Pionir Pendidikan dan Nasionalisme</span></b> <br><br><span style="font-size: 18px;" ;="">​Perjuangan dimulai dari sektor pendidikan melalui Aminah Syukur. Pada tahun 1928, di tengah kungkungan kolonialisme, ia bersama suaminya mendirikan </span><span style="font-size: 18px;" ;=""><i>Meisje School</i></span><span style="font-size: 18px;" ;="">. </span></p>
<p><span style="font-size: 18px;" ;="">Sekolah ini menjadi fase bagi murid perempuan pribumi untuk mendapatkan hak pendidikan yang setara dan melepaskan diri dari marginalisasi.</span> <br><br><span style="font-size: 18px;" ;="">​Memasuki era pergerakan, muncul nama Salbiah. Sebagai pengurus Rukun Pemuda Indonesia, ia menjadi sosok srikandi yang vokal. </span><span style="font-size: 18px;" ;=""></span></p>
<p><span style="font-size: 18px;" ;="">Keberaniannya teruji saat mengobarkan semangat nasionalisme dalam Kongres Gabungan Pemuda Indonesia Seluruh Kalimantan tahun 1948 di Barabai, sebuah momentum krusial bagi integrasi bangsa.</span> <br><br><span style="font-size: 23px;" ;=""><b>​</b></span><b><span style="font-size: 17px;" ;="">Pendobrak Birokrasi dan Pendidikan Tinggi</span></b> <br><br><span style="font-size: 18px;" ;="">​Di bidang politik, </span><span style="font-size: 17px;" ;="">Djumantan Hasyim</span><span style="font-size: 18px;" ;=""> mencatatkan tinta emas sebagai legislator perempuan pertama di DPRD Kalimantan Timur pada dekade 1950-an. </span></p>
<p><span style="font-size: 18px;" ;="">Tak sekadar duduk di kursi dewan, Djumantan dikenal karena ketegasannya dalam menengahi kemelut dualisme kepemimpinan daerah yang sempat mengguncang stabilitas birokrasi saat itu.</span> <br><br><span style="font-size: 18px;" ;="">​Kontribusi monumental lainnya datang dari etnis Tionghoa, Nyonya Lo Beng Long alias Dorinawati Samalo. </span> <br><br><span style="font-size: 18px;" ;="">Pada tahun 1962, ia dengan ikhlas menghibahkan kediaman pribadinya untuk digunakan sebagai gedung cikal bakal Universitas Mulawarman (Unmul). Tanpa kedermawanannya, institusi pendidikan tinggi kebanggaan Kaltim tersebut mungkin tidak akan berdiri secepat itu.</span> <br><br><span style="font-size: 23px;" ;=""><b>​</b></span><b><span style="font-size: 17px;" ;="">Ketahanan dan Bela Negara</span></b> <br><br><span style="font-size: 18px;" ;="">​Tokoh kelima adalah Fatimah Moeis, seorang organisator tangguh yang membuktikan bahwa perempuan juga mampu berada di ranah militer. Pada 1963, ia didaulat menjadi Komandan Korps Sukarelawati Kaltim setelah menjalani pelatihan militer intensif guna menghadapi ancaman konfrontasi Dwikora.</span> <br><br><span style="font-size: 18px;" ;="">​Seluruh rekam jejak perjuangan ini telah diabadikan oleh Muhammad Sarip bersama Alisya Anastasya dalam buku berjudul </span><span style="font-size: 18px;" ;=""><i>"Perempuan di Kalimantan Timur: Sejarah yang Terlupakan, Mitos Kartini, dan Realitas Gender".</i></span><br><br><span style="font-size: 18px;" ;="">​Buku ini hadir sebagai upaya untuk mendekonstruksi pemahaman sejarah yang selama ini mengesampingkan peran gender. </span></p>
<p><span style="font-size: 18px;" ;="">Melalui kisah kelima tokoh ini, generasi muda Kalimantan Timur diingatkan bahwa fondasi provinsi ini dibangun oleh keberanian perempuan-perempuan visioner yang menolak tunduk pada keterbatasan zaman. <strong>(REIN/daa)</strong></span><br><br><em><span style="font-size: 18px;" ;="">Sumber : Antaranews</span></em><!--/data/user/0/com.samsung.android.app.notes/files/clipdata/clipdata_bodytext_260426_152617_370.sdocx--></p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Mengenal Suku Punan Batu, Komunitas Peramu di Pedalaman Hutan Kalimantan</title>
<link>https://kartanews.com/mengenal-suku-punan-batu-komunitas-peramu-di-pedalaman-hutan-kalimantan</link>
<guid>https://kartanews.com/mengenal-suku-punan-batu-komunitas-peramu-di-pedalaman-hutan-kalimantan</guid>
<description><![CDATA[ Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202603/image_870x580_69ca10c0d5e0a.jpg" length="378591" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Mon, 30 Mar 2026 13:59:17 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, KALIMANTAN</strong> — Suku Punan Batu dikenal sebagai salah satu komunitas adat yang masih mempertahankan pola hidup berburu dan meramu di pedalaman hutan Kalimantan. </p>
<p>Kelompok ini kerap disebut sebagai representasi terakhir dari tradisi hidup nomaden yang bergantung langsung pada alam tanpa sistem pertanian menetap.</p>
<p>Melansir dari Tempo.co, keberadaan Punan Batu tersebar di kawasan hutan Kalimantan Timur, termasuk wilayah terpencil dan terisolasi di Kabupaten Berau. </p>
<p>Mereka hidup berpindah-pindah dengan memanfaatkan sumber daya hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari berburu hewan hingga mengumpulkan hasil hutan.</p>
<p>Data sensus yang dilakukan pada 2003–2004 mencatat populasi Punan di Kalimantan Timur sekitar 8.956 jiwa. </p>
<p>Angka tersebut diperkirakan telah mencakup sebagian besar populasi, meskipun peneliti masih membuka kemungkinan adanya kelompok kecil yang belum terdata karena hidup terisolasi di kawasan hutan yang sulit dijangkau.</p>
<p><img src="https://kartanews.com/uploads/images/202603/image_870x_69ca10bf68499.jpg" alt=""></p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian anggota Punan Batu diketahui telah mengenal bahasa Melayu sebagai sarana komunikasi dengan masyarakat luar. </p>
<p>Hal ini menunjukkan adanya interaksi terbatas dengan komunitas di sekitarnya, meski mereka tetap mempertahankan identitas budaya sendiri.</p>
<p>Secara kultural, Punan Batu memiliki perbedaan mendasar dengan kelompok Dayak yang umumnya hidup menetap dan mengandalkan sistem berladang. Punan Batu justru mengandalkan mobilitas tinggi dengan pola hidup berburu dan meramu sebagai sumber utama penghidupan.</p>
<p>Penelitian genetika juga menunjukkan perbedaan asal-usul antara Punan Batu dan kelompok masyarakat Kalimantan lainnya. </p>
<p>Studi yang melibatkan peneliti dari dalam dan luar negeri mengungkap bahwa Punan Batu memiliki jejak genetika pra-Austronesia yang diperkirakan telah hadir di Kalimantan sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum gelombang masyarakat bercocok tanam datang di wilayah ini.</p>
<p>Mobilitas menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Kelompok ini biasanya hanya menetap sementara di satu lokasi, seperti gua atau pondok sederhana, selama beberapa hari sebelum berpindah pada tempat lain dalam radius tertentu untuk mencari sumber makanan baru.</p>
<p>Dari sisi lain, Punan Batu juga memiliki sistem bahasa khas yang dikenal sebagai bahasa Latala. Bahasanya digunakan secara terbatas dalam komunitas, kerap disampaikan dalam bentuk nyanyian atau komunikasi internal yang tidak dipahami oleh masyarakat luar.</p>
<p>Menariknya, mereka juga mengembangkan sistem komunikasi nonverbal menggunakan tanda-tanda alam, seperti ranting dan daun. Tanda tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan kepada kelompok lain, misalnya sebagai peringatan bahaya atau permintaan bantuan.</p>
<p>Keberadaan Suku Punan Batu menjadi perhatian berbagai pihak karena dinilai sebagai bagian penting dari kekayaan budaya dan pengetahuan tradisional. </p>
<p>Pada arus modernisasi, komunitas ini tetap bertahan dengan cara hidup yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menjadi pengingat akan keberagaman cara manusia beradaptasi dengan lingkungan.</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Makna Nyepi, Dari Tradisi Kuno hingga Aksi Nyata Lestarikan Lingkungan</title>
<link>https://kartanews.com/makna-nyepi-dari-tradisi-kuno-hingga-aksi-nyata-lestarikan-lingkungan</link>
<guid>https://kartanews.com/makna-nyepi-dari-tradisi-kuno-hingga-aksi-nyata-lestarikan-lingkungan</guid>
<description><![CDATA[ Penulis : Mursyidah Auni | Editor : Dewi ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202603/image_870x580_69ba46f441abc.jpg" length="143855" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 14:33:03 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, DENPASAR</strong> – Hari Raya Nyepi merupakan peringatan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu di Indonesia yang dijalankan dengan cara berbeda dari perayaan tahun baru pada umumnya.</p>
<p>Jika sebagian besar perayaan identik dengan kemeriahan, Nyepi justru dilaksanakan dalam suasana hening total selama 24 jam sebagai bentuk refleksi diri dan penyucian lahir batin.</p>
<p>Berdasarkan informasi yang dikutip dari laman resmi <span style="color: #3598db;"><a href="https://ntt.kemenag.go.id/" style="color: #3598db;">Kementerian Agama NTT</a></span> serta buku Beragama Tanpa Rasa Takut tulisan Gede Agus Siswadi dan I Dewa Ayu Puspadewi, secara historis, Nyepi berakar dari tradisi India kuno yang berkaitan dengan penanggalan Saka yang dimulai sejak tahun 78 Masehi.</p>
<p>Periode tersebut merujuk pada masa pemerintahan Raja Kaniska I yang dikenal berhasil menyatukan berbagai kelompok yang sebelumnya terlibat konflik, peristiwa ini kemudian dimaknai sebagai simbol perdamaian dan persatuan. Selanjutnya berkembang menjadi bagian dari tradisi keagamaan Hindu, termasuk di Nusantara setelah masuknya pengaruh budaya dan ajaran Hindu pada masa kerajaan-kerajaan kuno.</p>
<p>Dalam perkembangannya di Indonesia, khususnya Bali, Nyepi tidak hanya dipahami sebagai pergantian tahun, tetapi juga sebagai momentum spiritual untuk melakukan introspeksi diri.</p>
<p>Istilah Nyepi sendiri berasal dari kata “sepi” yang menggambarkan kondisi hening, di mana umat Hindu menghentikan berbagai aktivitas duniawi untuk memusatkan perhatian pada penyucian diri dan keseimbangan hidup.</p>
<p>Makna filosofis Nyepi mencakup upaya membersihkan diri dari perilaku negatif selama setahun terakhir sekaligus memperbaiki kualitas diri untuk menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan.</p>
<p>Selain itu, penghentian aktivitas manusia selama satu hari penuh juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dengan memberikan waktu bagi lingkungan untuk beristirahat dari berbagai aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerusakan.</p>
<p>Pelaksanaan Nyepi ditandai dengan penerapan Catur Brata Penyepian yang dijalankan selama 24 jam sejak matahari terbit hingga keesokan harinya.</p>
<p>Ada empat pantangan saat Nyepi, meliputi amati geni atau tidak menyalakan api dan lampu, amati karya atau tidak bekerja, amati lelungan atau tidak bepergian, serta amati lelanguan atau tidak menikmati hiburan, seluruh ketentuan ini dijalankan secara disiplin oleh umat Hindu sebagai bentuk pengendalian diri dan pendalaman spiritual.</p>
<p>Rangkaian perayaan Nyepi diawali dengan upacara Melasti yang dilaksanakan beberapa hari sebelumnya, prosesi ini bertujuan menyucikan diri dan benda-benda sakral dengan membawa pratima ke sumber air seperti laut atau danau yang dipercaya sebagai sumber kehidupan.</p>
<p>Selanjutnya umat Hindu melaksanakan Tawur Kesanga yang bertujuan menyeimbangkan unsur alam serta menetralisir kekuatan negatif.</p>
<p>Pada malam menjelang Nyepi, masyarakat menggelar tradisi Pengrupukan yang ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh, patung raksasa yang melambangkan sifat buruk manusia diarak keliling desa sebelum akhirnya dimusnahkan, prosesi ini menjadi simbol pembersihan diri dari energi negatif agar pelaksanaan Nyepi berlangsung dalam keadaan suci.</p>
<p>Setelah Hari Nyepi, umat Hindu melanjutkan dengan Ngembak Geni yang menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial melalui kegiatan saling memaafkan dan bersilaturahmi.</p>
<p>Tradisi ini, mencerminkan nilai kebersamaan dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, di beberapa wilayah di Bali juga terdapat tradisi khas seperti Omed-omedan yang menjadi bagian dari kearifan lokal.</p>
<p>Selain memiliki nilai spiritual yang kuat, Nyepi juga memberikan dampak nyata terhadap lingkungan, penghentian aktivitas secara menyeluruh selama satu hari mampu menekan penggunaan energi listrik serta mengurangi emisi gas rumah kaca, kondisi ini menunjukkan bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.</p>
<p>Rangkaian makna sejarah, filosofi, serta praktik yang dijalankan secara konsisten, Nyepi tidak hanya menjadi identitas umat Hindu tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal Indonesia yang mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual di tengah kehidupan modern.</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Masjid Muhammad Cheng Hoo Kaltim, Simbol Akulturasi Budaya dan Ikon Wisata Religi di Jalur Samarinda–Balikpapan</title>
<link>https://kartanews.com/masjid-muhammad-cheng-hoo-kaltim-simbol-akulturasi-budaya-dan-ikon-wisata-religi-di-jalur-samarindabalikpapan</link>
<guid>https://kartanews.com/masjid-muhammad-cheng-hoo-kaltim-simbol-akulturasi-budaya-dan-ikon-wisata-religi-di-jalur-samarindabalikpapan</guid>
<description><![CDATA[ Penulis : Mursyidah Auni  | Editor : Dewi ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202603/image_870x580_69aa8b3b65b64.jpg" length="100725" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Fri, 06 Mar 2026 16:09:06 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, KUTAI KARTANEGARA</strong> – Keberadaan Masjid Muhammad Cheng Hoo di Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menjadi salah satu simbol nyata harmonisasi budaya dan agama di Indonesia. </p>
<p>Masjid yang berdiri di jalur utama penghubung Kota Samarinda dan Balikpapan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, tetapi juga menjadi representasi kuat akulturasi budaya Tionghoa, Islam, dan lokal Nusantara.</p>
<p>Dengan dominasi warna merah yang mencolok serta ornamen arsitektur bergaya Tiongkok, bangunan masjid ini kerap menarik perhatian masyarakat yang melintas di jalur tersebut. </p>
<p>Banyak pengendara yang sengaja berhenti sejenak untuk beribadah, beristirahat, ataupun mengabadikan momen di sekitar kompleks masjid yang memiliki desain unik dan berbeda dari masjid pada umumnya.</p>
<p>"Masjid ini selalu ramai dikunjungi, terutama saat musim mudik Lebaran," kata Sekretaris Pengurus Masjid Muhammad Cheng Hoo, Nurdin Haddade di Kutai Kartanegara, dikutip dari Antara, Jumat (6/3/2026).</p>
<p>Pengurus Masjid juga terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat maupun para musafir yang singgah dengan menyediakan berbagai fasilitas penunjang untuk memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.</p>
<p>“Kami memperhatikan kebutuhan musafir dengan menyediakan berbagai fasilitas memadai seperti area parkir kendaraan yang luas, toilet yang terjaga kebersihannya, hingga tempat istirahat gratis,” ujar Nurdin.</p>
<p>Asal usul Masjid ini dinamai Muhammad Cheng Hoo, merujuk pada sosok Laksamana Cheng Hoo atau Zheng He, seorang pelaut legendaris asal Tiongkok yang dikenal sebagai muslim dan pernah melakukan pelayaran besar ke berbagai wilayah Asia pada abad ke-15, termasuk ke wilayah Nusantara. </p>
<p>Dalam catatan sejarah, ekspedisi Cheng Hoo tidak hanya membawa misi perdagangan dan diplomasi, tetapi juga menjadi bagian dari penyebaran Islam secara damai di berbagai wilayah yang disinggahinya.</p>
<p>Nama Cheng Hoo dipilih sebagai simbol nilai toleransi, perdamaian, serta keterbukaan budaya yang selama ini menjadi karakter penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. </p>
<p>Sosok Cheng Hoo juga dianggap sebagai representasi sejarah interaksi antara peradaban Tionghoa dan dunia Islam yang telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.</p>
<p>Pembangunan Masjid Cheng Hoo di Kalimantan Timur digagas dan dibangun oleh pengusaha asal Kalimantan Timur, Muhammad Jos Soetomo. Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 2006 dan selesai pada tahun 2007 yang didirikan di atas lahan hibah dari seorang warga bernama Welly Susanto di Desa Batuah, Loa Janan, Kutai Kartanegara.</p>
<p>Sejak awal pendiriannya, masjid ini tidak hanya dirancang sebagai tempat pelaksanaan ibadah salat, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, pendidikan, dan dakwah bagi masyarakat sekitar.</p>
<p>Konsep arsitektur Masjid Cheng Hoo menjadi salah satu daya tarik utama yang membuatnya dikenal luas oleh masyarakat. Bangunannya memadukan unsur arsitektur khas Tiongkok dengan simbol-simbol Islam serta sentuhan lokal yang menyesuaikan dengan karakter lingkungan Kalimantan.</p>
<p>Secara visual, warna merah mendominasi tampilan bangunan karena dalam budaya Tionghoa, warna merah melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, serta kemakmuran. Selain itu, ornamen berwarna kuning dan hijau juga terlihat pada beberapa bagian bangunan, menambah kesan estetika yang kuat.</p>
<p>Bentuk atap masjid menyerupai pagoda atau bangunan tradisional Tiongkok yang biasanya ditemukan pada kelenteng. Ornamen ukiran yang detail serta bentuk lengkungan atap menjadi ciri khas arsitektur yang langsung dikenali oleh masyarakat.</p>
<p>Meskipun memiliki tampilan yang menyerupai bangunan tradisional Tionghoa, identitas Islam tetap terlihat jelas pada bagian interior masjid. Beberapa bagian bangunan dihiasi kaligrafi Arab yang berisi ayat-ayat suci Al-Qur’an. </p>
<p>Selain itu, tata ruang salat tetap mengikuti kaidah arsitektur masjid pada umumnya, dengan arah kiblat yang jelas serta ruang utama yang luas untuk menampung jamaah.</p>
<p>Desain bangunan juga disesuaikan pada kondisi iklim tropis Kalimantan dengan struktur bangunan dibuat cukup terbuka agar sirkulasi udara berjalan dengan baik, sehingga suasana di dalam masjid tetap terasa sejuk meskipun berada di kawasan dengan suhu yang cukup tinggi.</p>
<p>Seiring berjalannya waktu, Masjid Cheng Hoo tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah bagi umat Islam, tetapi juga berkembang menjadi salah satu destinasi wisata religi yang cukup terkenal di Kalimantan Timur. </p>
<p>Selain kegiatan ibadah rutin, pengurus masjid juga menyelenggarakan berbagai aktivitas keagamaan dan sosial, seperti pengajian, pembinaan mualaf, kegiatan dakwah, hingga peringatan hari besar Islam. </p>
<p>Kegiatan-kegiatan tentunya melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat Kalimantan Timur yang dikenal memiliki tingkat toleransi tinggi. Ada beragam macam suku di provinsi ini dan berbagai etnis seperti Banjar, Bugis, Jawa, Dayak, hingga Tionghoa hidup berdampingan dalam suasana yang relatif harmonis.</p>
<p>Melalui keberadaan masjid ini, nilai-nilai keberagaman tercermin secara nyata. Masjid Cheng Hoo menjadi bukti bahwa identitas budaya dapat berjalan beriringan dengan praktik keagamaan tanpa harus saling meniadakan.</p>
<p>Kehadiran masjid ini mengingatkan kembali pada sejarah panjang hubungan antara peradaban Tionghoa dan dunia Islam di Nusantara. </p>
<p>Arsitektur yang unik, nilai sejarah yang kuat, serta perannya sebagai pusat kegiatan sosial dan keagamaan, Masjid Muhammad Cheng Hoo di Kalimantan Timur kini tidak hanya menjadi tempat ibadah semata, tetapi juga simbol penting dari akulturasi budaya, toleransi, serta kekayaan sejarah Islam di Indonesia. </p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Mengenal Suku Banua: Jejak Sejarah dan Identitas Pesisir Berau</title>
<link>https://kartanews.com/mengenal-suku-banua-jejak-sejarah-dan-identitas-pesisir-berau</link>
<guid>https://kartanews.com/mengenal-suku-banua-jejak-sejarah-dan-identitas-pesisir-berau</guid>
<description><![CDATA[ Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202603/image_870x580_69a5480cbf492.jpg" length="500955" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Mon, 02 Mar 2026 16:21:30 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, BERAU</strong> – Tahukah kamu bahwa identitas masyarakat pesisir Berau yang dikenal sebagai Suku Banua terbentuk dari pertemuan panjang berbagai etnis di Kalimantan Timur?</p>
<p>Sebagai “Orang Berau asli” tersimpan sejarah akulturasi yang membentuk peradaban khas di wilayah pesisir ini.</p>
<p>Istilah “banua” dalam rumpun bahasa Austronesia berarti negeri, tanah air, atau wilayah tempat bermukim.</p>
<p>Dalam konteks Berau sendiri, istilah ini merujuk pada komunitas masyarakat pesisir yang berkembang di kawasan muara sungai dan garis pantai, terutama di sekitar Sungai Kelay dan Sungai Segah yang bermuara ke Laut Sulawesi.</p>
<p><strong>Jejak Historis</strong></p>
<p>Secara antropologis, Suku Banua bukanlah kelompok etnis yang terbentuk secara homogen. Identitas Banua lahir dari proses akulturasi panjang antara penduduk asli pedalaman Kalimantan dengan para pendatang yang datang melalui jalur perdagangan maritim.</p>
<p>Penduduk Dayak, khususnya dari kelompok Setulung dan Segai, diyakini sebagai bagian awal komunitas yang kemudian berinteraksi dengan masyarakat pesisir.</p>
<p>Seiring dengan berkembangnya jalur perdagangan pada abad pertengahan, wilayah Berau mulai didatangi pedagang Melayu dari Sumatera dan Semenanjung Malaya, serta pelaut Bugis dan Jawa yang aktif dalam jaringan niaga Nusantara.</p>
<p>Pertemuan berbagai etnis tidak berlangsung secara konfrontatif, melainkan melalui proses adaptasi sosial dan perkawinan antarkelompok. Penyebaran Islam yang masuk melalui jaringan perdagangan menjadi faktor pemersatu yang signifikan.</p>
<p>Agama ini tidak hanya membentuk sistem kepercayaan, tetapi juga memengaruhi struktur pemerintahan, hukum adat, pendidikan, hingga seni dan budaya masyarakat.</p>
<p><strong>Kerajaan Berau dan Transformasi Politik</strong></p>
<p>Sejarah Suku Banua tidak dapat dipisahkan dari berdirinya Kerajaan Berau yang diperkirakan muncul pada abad ke-14. Tradisi lisan menyebut Badrullah Edau yang kemudian dikenal sebagai Aji Raden Suryanata Kesuma sebagai pendiri awal kerajaan.</p>
<p>Kerajaan Berau berkembang sebagai pusat kekuasaan politik dan perdagangan di pesisir timur Kalimantan. Letaknya yang strategis menjadikan wilayah ini bagian dari jaringan perdagangan yang menghubungkan Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah Semenanjung Malaya.</p>
<p>Pada abad ke-19, dinamika politik internal serta pengaruh kolonial Belanda menyebabkan Kerajaan Berau terpecah menjadi dua entitas pemerintahan, yakni Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur.</p>
<p>Kedua kesultanan memiliki wilayah kekuasaan yang dipisahkan oleh aliran sungai dan berkembang sebagai pusat adat serta kebudayaan Banua.</p>
<p>Arsitektur keraton yang masih berdiri hingga kini menjadi bukti kejayaan sistem pemerintahan tradisional tersebut. Bangunan-bangunan itu memperlihatkan perpaduan arsitektur lokal, pengaruh Melayu, serta unsur Islam yang kuat.</p>
<p><strong>Bahasa sebagai Identitas Kolektif</strong></p>
<p>Bahasa Berau atau Dialek Banua menjadi salah satu penanda identitas masyarakat pesisir ini. Secara linguistik, bahasa tersebut termasuk dalam rumpun Melayu dan memiliki kedekatan dengan Bahasa Kutai serta Banjar. Namun, terdapat kosakata dan intonasi khas yang dipengaruhi bahasa Dayak lokal maupun bahasa pesisir seperti Suluk dan Bajau.</p>
<p>Dalam praktiknya, terdapat variasi dialek di wilayah Berau, antara lain dialek Banua yang dominan di kawasan pusat kota dan pesisir, dialek pesisir dengan pengaruh komunitas maritim, serta dialek hulu yang berkembang di wilayah yang lebih dekat dengan pedalaman.</p>
<p>Bahasa ini tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga simbol kesinambungan sejarah dan identitas budaya masyarakat Banua.</p>
<p><strong>Tradisi Bahari dan Struktur Sosial</strong></p>
<p>Letak geografis Berau di kawasan muara sungai membentuk karakter masyarakat Banua sebagai komunitas maritim. Sejak masa kerajaan, masyarakat pesisir berperan sebagai pelaut, nelayan, sekaligus pedagang yang menjadi perantara hasil hutan dari pedalaman dengan pedagang luar.</p>
<p>Komoditas seperti rotan, damar, sarang burung walet, dan hasil laut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi tradisional. Posisi ini menjadikan masyarakat Banua sebagai penghubung penting antara dunia pedalaman Dayak dan jaringan perdagangan regional.</p>
<p>Dalam kehidupan sosial, nilai-nilai Islam berpadu dengan adat lokal. Tradisi seperti Manutung Jukut, yakni kegiatan membakar ikan secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur, masih dikenal hingga kini.</p>
<p>Selain itu, Tari Dalling menjadi representasi seni pertunjukan yang mencerminkan pengaruh budaya pesisir dan Melayu.</p>
<p>Struktur sosial pada masa kesultanan mengenal stratifikasi bangsawan dan rakyat, namun dalam praktik kehidupan sehari-hari, nilai musyawarah dan kekeluargaan tetap menjadi prinsip utama dalam penyelesaian persoalan sosial.</p>
<p><strong>Peran dalam Dinamika Modern Berau</strong></p>
<p>Memasuki era modern, identitas Suku Banua tetap menjadi bagian penting dalam dinamika sosial Kabupaten Berau. Meski terjadi urbanisasi dan masuknya berbagai kelompok etnis lain, warisan budaya Banua tetap terlihat dalam bahasa sehari-hari, tradisi adat, hingga struktur sosial masyarakat.</p>
<p>Keberadaan keraton sebagai situs sejarah dan museum menjadi pusat pelestarian memori kolektif. Selain itu, berbagai festival budaya dan kegiatan adat turut menjaga kesinambungan nilai-nilai lokal di tengah perubahan zaman.</p>
<p>Suku Banua mencerminkan bagaimana pertemuan berbagai etnis dapat melahirkan identitas baru yang adaptif dan inklusif. Unsur Dayak, Melayu, Bugis, dan Jawa yang melebur dalam satu tatanan sosial membentuk karakter masyarakat pesisir Berau yang terbuka terhadap perubahan, namun tetap menjaga akar sejarahnya.</p>
<p>Sebagai bagian dari mozaik etnis Kalimantan Timur, Suku Banua tidak hanya menjadi penanda identitas lokal tetapi juga simbol harmoni budaya dalam lintasan sejarah panjang Nusantara.</p>
<p></p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Menyusuri Jejak Peradaban Islam di Berbagai Belahan Dunia</title>
<link>https://kartanews.com/menyusuri-jejak-peradaban-islam-di-berbagai-belahan-dunia</link>
<guid>https://kartanews.com/menyusuri-jejak-peradaban-islam-di-berbagai-belahan-dunia</guid>
<description><![CDATA[ Penulis: Mursyidah Auni | Editor: Dewi ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202602/image_870x580_6996cb70ad0d5.jpg" length="113279" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Thu, 19 Feb 2026 16:38:32 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM</strong> - Bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai periode ibadah puasa bagi umat Islam, tetapi juga menjadi momentum yang menghadirkan atmosfer spiritual khas di berbagai kota bersejarah dunia. </p>
<p>Di sejumlah negara dengan warisan peradaban Islam yang kuat, Ramadhan menghadirkan perpaduan antara tradisi keagamaan, budaya lokal, dan denyut kehidupan masyarakat yang berbeda dibanding bulan-bulan lainnya.</p>
<p>Sejumlah destinasi internasional kerap menjadi pilihan wisatawan yang ingin menggabungkan perjalanan spiritual dengan eksplorasi sejarah. </p>
<p>Berikut beberapa negara yang dikenal memiliki kekayaan sejarah Islam sekaligus suasana Ramadan yang semarak:</p>
<p><strong>Turki: Harmoni Warisan Ottoman dan Bizantium</strong></p>
<p>Turki, khususnya Istanbul, menjadi salah satu pusat peradaban penting dalam sejarah Islam. Kota yang berada di dua benua ini menyimpan jejak Kekhalifahan Utsmaniyah sekaligus peninggalan Bizantium.</p>
<p>Kawasan Sultanahmet menjadi titik utama aktivitas Ramadan. Masjid Biru (Sultan Ahmed) dan Hagia Sophia, masyarakat dan wisatawan dapat merasakan suasana buka puasa bersama yang digelar di ruang terbuka. Tradisi iftar sofrasi atau jamuan berbuka massal di taman kota masih dipertahankan hingga kini. </p>
<p>Selain itu, penabuh drum tradisional yang berkeliling membangunkan warga untuk sahur menjadi simbol kesinambungan tradisi sejak era Ottoman.</p>
<p>Pemerintah Turki juga biasanya menyelenggarakan festival budaya Ramadan, termasuk bazar kuliner, pertunjukan kaligrafi, hingga musik religi, yang memperkaya pengalaman spiritual pengunjung.</p>
<p><strong>Mesir: Jejak Keilmuan dan Cahaya Lentera</strong></p>
<p>Kairo kerap disebut sebagai “Kota Seribu Menara” karena banyaknya masjid bersejarah yang berdiri sejak abad pertengahan. Masjid Al-Azhar yang berdiri sejak abad ke-10, menjadi salah satu pusat keilmuan Islam tertua di dunia. </p>
<p>Kawasan Kairo Islam (Islamic Cairo) yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO menampilkan arsitektur klasik yang tetap hidup hingga kini.</p>
<p>Selama Ramadhan, jalan-jalan di Kairo dihiasi lentera warna-warni yang dikenal sebagai fanous. Tradisi ini dipercaya telah ada sejak era Dinasti Fatimiyah. </p>
<p>Kawasan Al-Muizz juga menawarkan suasana malam dipenuhi cahaya lampu dan aroma kuliner khas seperti koshary, ful medames, dan qatayef yang menjadi hidangan favorit berbuka.</p>
<p>Meski demikian, otoritas setempat biasanya mengatur jam operasional situs wisata dan museum selama Ramadhan, sehingga wisatawan disarankan menyesuaikan jadwal kunjungan.</p>
<p><strong>Maroko: Keindahan Arsitektur dan Tradisi Magribi</strong></p>
<p>Maroko menawarkan pengalaman Ramadhan dengan latar kota tua (medina) yang masih terjaga keasliannya. Fez El Bali, salah satu kawasan pejalan kaki terbesar di dunia dan situs Warisan Dunia UNESCO menjadi pusat aktivitas masyarakat. Sementara di Marrakech, Masjid Koutoubia menjadi ikon spiritual yang ramai dikunjungi.</p>
<p>Tradisi berbuka puasa di Maroko identik dengan sup harira, kurma, roti khas, serta teh mint hangat. Sejumlah kota, waktu berbuka ditandai dengan dentuman meriam, sebuah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun. </p>
<p>Aktivitas perdagangan di pasar tradisional juga meningkat menjelang waktu magrib, menciptakan dinamika sosial yang khas.</p>
<p><strong>Arab Saudi: Pusat Spiritualitas Dunia Islam</strong></p>
<p>Arab Saudi menjadi tujuan utama perjalanan spiritual, terutama di Mekkah dan Madinah. Pada bulan Ramadan, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dipenuhi jutaan jamaah dari berbagai negara.</p>
<p>Tradisi berbuka puasa bersama di pelataran Masjidil Haram menjadi pemandangan yang sarat makna kebersamaan. Beragam menu sederhana seperti kurma, air zamzam, dan nasi disediakan secara kolektif oleh masyarakat maupun lembaga filantropi.</p>
<p>Selain destinasi religius, pemerintah Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir juga membuka kawasan bersejarah seperti Diriyah di Riyadh serta situs arkeologi Al-Ula yang menyimpan peninggalan peradaban kuno.</p>
<p><strong>Uzbekistan: Warisan Jalur Sutra dan Tradisi Ilmu Pengetahuan</strong></p>
<p>Uzbekistan, khususnya Samarkand dan Bukhara, dikenal sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tengah. Registan Square dengan arsitektur ubin biru menjadi simbol kejayaan ilmu pengetahuan Islam. Negara ini pula terdapat makam Imam Bukhari, salah satu perawi hadis terkemuka.</p>
<p>Suasana Ramadan di Uzbekistan berlangsung dalam nuansa kekeluargaan. Tradisi berbuka bersama di rumah-rumah penduduk mencerminkan budaya keramahan setempat. Hidangan plov, roti non, dan sup khas menjadi sajian utama saat iftar.</p>
<p>Wisatawan yang berkunjung selama Ramadhan perlu memahami penyesuaian jam operasional sejumlah tempat wisata, restoran, dan pusat perbelanjaan. Banyak negara mayoritas Muslim, aktivitas publik cenderung melambat pada siang hari dan meningkat setelah waktu berbuka.</p>
<p>Selain itu, penghormatan terhadap masyarakat yang menjalankan ibadah puasa menjadi hal penting. Pengunjung non-Muslim umumnya diperkenankan makan dan minum, namun dianjurkan untuk tidak melakukannya secara mencolok di ruang publik.</p>
<p>Ramadhan pada akhirnya bukan hanya perjalanan fisik ke situs-situs bersejarah, melainkan juga pengalaman sosial dan spiritual yang memperlihatkan bagaimana tradisi, sejarah, dan nilai keagamaan berpadu dalam kehidupan masyarakat. </p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Raja Alam Sambaliung, Penguasa Lokal yang Menantang Dominasi Hindia Belanda</title>
<link>https://kartanews.com/raja-alam-sambaliung-penguasa-lokal-yang-menantang-dominasi-hindia-belanda</link>
<guid>https://kartanews.com/raja-alam-sambaliung-penguasa-lokal-yang-menantang-dominasi-hindia-belanda</guid>
<description><![CDATA[ Oleh: Mursyidah Auni ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202602/image_870x580_6985906ad5104.jpg" length="67327" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Fri, 06 Feb 2026 14:57:45 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, BERAU</strong> – Sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Kalimantan Timur tidak hanya ditorehkan oleh kerajaan-kerajaan besar. </p>
<p>Salah satu figur penting yang tercatat berani menantang kekuasaan Hindia Belanda adalah Raja Alam, penguasa Kerajaan Sambaliung di wilayah Berau pada paruh awal abad ke-19.</p>
<p>Pada masa Hindia Belanda, Kerajaan Berau dikenal sebagai salah satu kekuatan politik utama di kawasan pesisir timur Kalimantan. </p>
<p>Pengaruh Kerajaan Banjar yang menyerahkan Berau kepada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada 1787 menjadi pintu masuk kekuasaan kolonial di wilayah tersebut. Namun, runtuhnya VOC justru memicu fragmentasi politik di Berau.</p>
<p>Sejumlah sumber sejarah mencatat bahwa wilayah Berau kemudian terbagi ke dalam beberapa kerajaan, di antaranya Gunung Tabur, Bulungan, dan Sambaliung. </p>
<p>Kerajaan Sambaliung muncul sekitar dekade 1810-an dan dipimpin oleh Sultan Aliuddin Raja Alam, seorang bangsawan keturunan keluarga kerajaan Berau.</p>
<p>Dalam catatan kolonial, Sambaliung sebelumnya dikenal dengan nama Tanjung. Nama Sambaliung diyakini berasal dari gabungan kata “sembah” dan “liung” yang dimaknai sebagai simbol penolakan untuk tunduk kepada kekuasaan asing. </p>
<p>Makna tersebut sejalan dengan sikap politik Raja Alam yang secara terbuka menentang dominasi Belanda.</p>
<p>Pusat kekuasaan Raja Alam berada di kawasan Tanjung dan wilayah yang kini dikenal sebagai Tanjung Redeb, serta menjadikan Batu Putih sebagai salah satu basis pertahanan. Wilayah kekuasaannya cukup luas dan strategis, terutama di jalur perdagangan pesisir timur Kalimantan.</p>
<p>Ketegangan antara Sambaliung dan pemerintah kolonial meningkat ketika Belanda berupaya memaksakan kontrak politik yang menempatkan kerajaan-kerajaan lokal sebagai negara bawahan. </p>
<p>Berbeda dengan penguasa lain, Raja Alam menolak menandatangani perjanjian tersebut dan menyatakan keinginannya untuk mempertahankan kedaulatan kerajaan.Sikap tersebut diperkuat oleh dukungan dari jaringan politik dan militer di kawasan pesisir. </p>
<p>Raja Alam memiliki hubungan erat dengan komunitas Bugis di Tanjung Redeb yang dipimpin Panglima Limbuti, serta menjalin aliansi dengan kelompok Sulu yang dikenal memiliki kekuatan maritim di Selat Makassar. Hubungan tersebut tidak hanya bersifat politik, tetapi juga diperkuat melalui ikatan pernikahan.</p>
<p>Penolakan Raja Alam terhadap kekuasaan kolonial berujung pada tindakan militer. Pada 1834, pemerintah Hindia Belanda mengirim ekspedisi bersenjata ke Sambaliung di bawah komando perwira angkatan laut Belanda. Serangan difokuskan ke Batu Putih dan Tanjung Redeb, hingga akhirnya pasukan Raja Alam berhasil dikalahkan.</p>
<p>Raja Alam ditangkap dan diasingkan ke Makassar. Untuk sementara, wilayah Sambaliung berada di bawah pengawasan penguasa Gunung Tabur yang dianggap lebih kooperatif terhadap pemerintah kolonial.</p>
<p>Namun, dinamika politik kembali berubah. Setelah melalui perundingan, Raja Alam menyatakan kesediaannya tunduk pada hukum kolonial. </p>
<p>Pada 24 Juni 1837, ia bersama putranya mengucapkan sumpah setia kepada pemerintah Hindia Belanda. Sebagai imbalannya, Raja Alam diizinkan kembali memerintah wilayah Batu Putih, meski status Sambaliung telah dilebur ke dalam wilayah Gunung Tabur.</p>
<p>Raja Alam memimpin hingga 1844 sebelum kekuasaannya dilanjutkan oleh para penerus. Meski akhirnya harus tunduk, keberaniannya dalam mempertahankan kedaulatan lokal menjadikannya salah satu tokoh penting dalam sejarah perlawanan terhadap kolonialisme di Kalimantan Timur.</p>
<p>Nama Raja Alam kini dikenang sebagai simbol keberanian dan perlawanan, bahkan diabadikan sebagai nama satuan militer Batalyon Raider 613 yang bermarkas di Kalimantan Utara.</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Isra Mi’raj, Peristiwa Sakral yang Hidup dalam Tradisi Nusantara</title>
<link>https://kartanews.com/isra-miraj-peristiwa-sakral-yang-hidup-dalam-tradisi-nusantara</link>
<guid>https://kartanews.com/isra-miraj-peristiwa-sakral-yang-hidup-dalam-tradisi-nusantara</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202601/image_870x580_6969fef5d42c8.jpg" length="80125" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Fri, 16 Jan 2026 17:04:02 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, INDONESIA </strong>– Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momen penting dalam kalender keagamaan umat Islam di Indonesia. Selain dimaknai sebagai peristiwa spiritual, Isra Mi’raj juga hidup dalam berbagai tradisi lokal yang berkembang di tengah masyarakat Nusantara.</p>
<p>Secara historis, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab, sekitar tahun 621 M, menjelang hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian naik ke Sidratul Muntaha. Dari peristiwa tersebut, umat Islam menerima perintah utama berupa kewajiban melaksanakan shalat lima waktu yang hingga kini menjadi fondasi ibadah umat Islam.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia, peringatan Isra Mi’raj kerap disebut Rajaban dan dirayakan dengan beragam tradisi yang mencerminkan akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal. Seperti di Yogyakarta dan Solo, tradisi Rajaban dilaksanakan melalui kirab simbolik burung buraq. </p>
<p>Sementara di Bangka Belitung, masyarakat mengenal tradisi Nganggung dengan membawa makanan ke masjid untuk disantap bersama. Adapun di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, pembacaan Kitab Arjo menjadi bagian dari peringatan Isra Mi’raj, sedangkan masyarakat Cirebon memadukannya dengan ziarah dan pengajian umum.</p>
<p>Lebih dari sekadar tradisi, Isra Mi’raj memiliki nilai edukasi yang kuat bagi umat Islam. Peristiwa ini mengajarkan pentingnya ketaatan dalam menjalankan shalat sebagai ibadah utama, sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Melalui peringatan ini, masyarakat diajak untuk merefleksikan kembali kualitas ibadah dan akhlak sosial.</p>
<p>Dalam praktiknya, terdapat pula sebagian kalangan yang memandang peringatan Isra Mi’raj sebagai bid’ah, terutama jika dirayakan dalam bentuk ritual tertentu yang tidak secara eksplisit dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Perbedaan pandangan ini merupakan bagian dari dinamika pemahaman keagamaan di tengah umat Islam.</p>
<p>Namun, para ulama dan tokoh agama di Indonesia umumnya menekankan bahwa peringatan Isra Mi’raj yang diisi dengan pengajian, selawat, dan penguatan nilai ibadah tidak dimaksudkan untuk menambah ajaran baru, melainkan sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat, peringatan tersebut dipandang sebagai media untuk mengingatkan umat terhadap makna shalat dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia yang majemuk, peringatan Isra Mi’raj sekaligus menjadi contoh nyata praktik moderasi beragama. Perbedaan pandangan disikapi dengan saling menghormati, sementara nilai persatuan dan kebersamaan tetap dijaga. Negara sendiri menetapkan Isra Mi’raj sebagai hari libur nasional, sebagai bentuk pengakuan atas pentingnya peristiwa ini dalam kehidupan beragama dan berbangsa. (AUNI)</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Inilah 10 Suku Bangsa Terbesar di Kalimantan Timur</title>
<link>https://kartanews.com/inilah-10-suku-bangsa-terbesar-di-kalimantan-timur</link>
<guid>https://kartanews.com/inilah-10-suku-bangsa-terbesar-di-kalimantan-timur</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202601/image_870x580_69689e3a56b1f.jpg" length="160762" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Thu, 15 Jan 2026 15:59:02 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, KALIMANTAN TIMUR </strong>– Kalimantan Timur dikenal sebagai salah satu provinsi dengan tingkat keberagaman etnis tertinggi di Indonesia. Posisi strategis daerah ini, yang kini menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN), menjadikannya ruang pertemuan berbagai latar belakang budaya dari seluruh penjuru Tanah Air.</p>
<p>Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) serta kajian demografi terkini, struktur kependudukan Kalimantan Timur menunjukkan dominasi sejumlah suku bangsa, baik pendatang maupun suku asli. Keberagaman tersebut membentuk wajah sosial “Tanah Etam” yang dinamis dan inklusif.</p>
<p>Berikut sepuluh suku bangsa dengan jumlah penduduk terbesar di Kalimantan Timur:</p>
<p><strong>1. Jawa</strong></p>
<p>Suku Jawa menjadi kelompok etnis terbesar dengan proporsi sekitar sepertiga dari total penduduk. Keberadaan mereka banyak dipengaruhi oleh program transmigrasi sejak masa Orde Baru serta arus perpindahan mandiri untuk bekerja di sektor pertanian, perkebunan, dan pertambangan.</p>
<p><strong>2. Bugis</strong></p>
<p>Masyarakat Bugis menempati posisi kedua. Mereka telah lama bermukim di wilayah pesisir Kalimantan Timur dan dikenal aktif di sektor perdagangan, pelayaran, serta perikanan, terutama di kawasan Samarinda Seberang dan Bontang.</p>
<p><strong>3. Banjar</strong></p>
<p>Suku Banjar tersebar luas di berbagai daerah di Kalimantan Timur. Pengaruhnya cukup kuat dalam kehidupan ekonomi dan budaya perkotaan, khususnya di pasar-pasar tradisional dan dalam penggunaan bahasa Banjar di keseharian masyarakat.</p>
<p><strong>4. Dayak</strong></p>
<p>Sebagai penduduk asli Kalimantan, suku Dayak terdiri dari beragam sub-suku seperti Kenyah, Benuaq, Tunjung, dan Bahau. Komunitas Dayak banyak mendiami wilayah pedalaman dan daerah hulu sungai, serta berperan penting dalam menjaga tradisi dan kearifan lokal.</p>
<p><strong>5. Kutai</strong></p>
<p>Suku Kutai memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan Kesultanan Kutai Kartanegara. Populasinya terkonsentrasi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Barat, dan Kutai Timur, dengan budaya yang masih terpelihara hingga kini.</p>
<p><strong>6. Toraja</strong></p>
<p>Etnis Toraja cukup banyak dijumpai di kota-kota industri. Sebagian besar masyarakat Toraja bermigrasi ke Kalimantan Timur untuk bekerja di sektor pertambangan, industri, dan alat berat.</p>
<p><strong>7. Madura</strong></p>
<p>Suku Madura banyak beraktivitas di sektor jasa dan usaha kecil, mulai dari transportasi hingga perdagangan skala mikro. Keberadaan mereka turut menopang perekonomian informal di wilayah perkotaan.</p>
<p><strong>8. Buton</strong></p>
<p>Masyarakat Buton dari Sulawesi Tenggara umumnya bermukim di daerah pesisir. Profesi sebagai nelayan, pelaut, dan pedagang menjadi ciri khas aktivitas ekonomi mereka di Kalimantan Timur.</p>
<p><strong>9. Nusa Tenggara Timur (Flobamora)</strong></p>
<p>Komunitas asal NTT terus berkembang, terutama seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di sektor perkebunan dan pembangunan infrastruktur, termasuk proyek strategis IKN.</p>
<p><strong>10. Batak</strong></p>
<p>Suku Batak meski jumlahnya tidak sebesar etnis lain, memiliki peran penting di sektor profesional, pendidikan, hukum, serta pemerintahan di Kalimantan Timur.</p>
<p>Harmoni dalam Keberagaman</p>
<p>Keberagaman etnis ini dinilai sebagai kekuatan sosial Kalimantan Timur dalam menghadapi perubahan besar akibat pembangunan IKN. Para pengamat sosial menyebut provinsi ini sebagai miniatur Indonesia, di mana berbagai latar belakang budaya hidup berdampingan secara relatif harmonis.</p>
<p>Masuknya aparatur sipil negara dan tenaga kerja baru dari berbagai daerah diperkirakan akan semakin memperkaya komposisi penduduk Kalimantan Timur, sekaligus mengukuhkan perannya sebagai pusat pertemuan budaya Nusantara. (AUNI)</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Menelusuri Jejak Budaya Suku Dayak, Penjaga Rimba di Jantung Kalimantan</title>
<link>https://kartanews.com/menelusuri-jejak-budaya-suku-dayak-penjaga-rimba-di-jantung-kalimantan</link>
<guid>https://kartanews.com/menelusuri-jejak-budaya-suku-dayak-penjaga-rimba-di-jantung-kalimantan</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202601/image_870x580_69689a7d477e1.jpg" length="130717" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Thu, 15 Jan 2026 15:43:21 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, KALIMANTAN</strong> – Di tengah lebatnya hutan hujan Pulau Borneo, Suku Dayak tumbuh sebagai salah satu peradaban tertua di Nusantara. Lebih dari sekadar kelompok etnis, Dayak dikenal sebagai penjaga hutan dan pewaris nilai-nilai kearifan lokal yang bertahan lintas generasi.</p>
<p>Istilah “Dayak” sendiri merujuk pada masyarakat yang sejak awal mendiami wilayah pedalaman dan hulu sungai. Sejumlah kajian antropologi menyebutkan leluhur Dayak berasal dari rumpun Austronesia yang bermigrasi dari Asia Tenggara daratan ribuan tahun lalu. </p>
<p>Seiring perjalanan waktu, komunitas ini berkembang menjadi ratusan sub-suku dengan bahasa, adat, dan tradisi yang beragam, namun tetap disatukan oleh pandangan hidup yang selaras dengan alam.</p>
<p><strong>Identitas Budaya yang Sarat Makna</strong></p>
<p>Budaya Dayak dikenal kaya akan simbol visual yang bukan sekadar estetika. Tato tradisional atau tutan, misalnya, memiliki makna spiritual yang mendalam. Bagi masyarakat Dayak, tato menjadi penanda status sosial, keberanian, serta bekal simbolis menuju alam keabadian.</p>
<p>Tradisi telinga panjang atau telingaan aruu juga menjadi ciri khas yang sarat filosofi. Dahulu, panjang telinga mencerminkan kesabaran, keindahan, dan kedudukan sosial, meski kini praktik tersebut mulai jarang dijumpai pada generasi muda.</p>
<p>Dalam ranah seni pertunjukan, Tari Kancet Papatai menjadi simbol keberanian laki-laki Dayak. Tarian perang ini menggambarkan semangat menjaga wilayah dan kehormatan, diiringi alunan alat musik tradisional sape yang khas.</p>
<p><strong>Rumah Betang, Jantung Kehidupan Sosial</strong></p>
<p>Nilai kebersamaan masyarakat Dayak tercermin kuat dalam Rumah Betang atau rumah panjang. Bangunan kayu ulin ini menjadi tempat tinggal bersama puluhan bahkan ratusan orang dari berbagai keluarga.</p>
<p>Rumah Betang tidak hanya berfungsi sebagai hunian, tetapi juga pusat musyawarah adat, penyelesaian konflik, hingga pelaksanaan upacara besar. Filosofi hidup rukun dalam satu atap menjadi fondasi utama kehidupan sosial masyarakat Dayak.</p>
<p><strong>Ritual Sakral Tiwah</strong></p>
<p>Salah satu upacara adat paling sakral dalam tradisi Dayak, khususnya penganut Hindu Kaharingan, adalah Tiwah. Upacara ini merupakan prosesi penghormatan terakhir kepada leluhur, dengan memindahkan tulang-belulang ke sandung, rumah khusus penyimpanan jenazah.</p>
<p>Tiwah diyakini sebagai jalan bagi arwah untuk mencapai Lewu Tatau, alam keabadian, sekaligus menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, leluhur, dan alam semesta.</p>
<p><strong>Keragaman Sub-Suku Dayak</strong></p>
<p>Di Kalimantan, Suku Dayak terbagi ke dalam sejumlah rumpun besar seperti Ngaju, Iban, Kenyah, Kayan, Ma’anyan, Bidayuh, Murut, hingga Banuaka. Persebaran mereka umumnya mengikuti daerah aliran sungai yang sejak dahulu menjadi urat nadi kehidupan dan transportasi.</p>
<p>Perbedaan bahasa, bentuk rumah adat, motif tato, hingga struktur sosial menjadi ciri khas masing-masing sub-suku. Meski demikian, kesamaan nilai menjaga alam dan menghormati leluhur tetap menjadi benang merah yang menyatukan.</p>
<p><strong>Bertahan di Tengah Modernisasi</strong></p>
<p>Di tengah arus modernisasi dan pembangunan, termasuk hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN), budaya Dayak menghadapi tantangan sekaligus peluang. Banyak komunitas adat kini aktif memperkenalkan budayanya melalui pendidikan, festival, dan pariwisata berbasis kearifan lokal.</p>
<p>Keberadaan Suku Dayak menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus identitas. Justru, nilai hidup berdampingan dengan alam yang mereka warisi selama berabad-abad menjadi pelajaran penting bagi masa depan Kalimantan dan Indonesia. (AUNI)</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Mengenal Sejarah Kecamatan Sambaliung: Perlawanan dan Warisan Budaya di Kalimantan Timur</title>
<link>https://kartanews.com/mengenal-sejarah-kecamatan-sambaliung-perlawanan-dan-warisan-budaya-di-kalimantan-timur</link>
<guid>https://kartanews.com/mengenal-sejarah-kecamatan-sambaliung-perlawanan-dan-warisan-budaya-di-kalimantan-timur</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202601/image_870x580_6965f97492c70.jpg" length="71394" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Tue, 13 Jan 2026 15:52:30 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM BERAU</strong> – Kecamatan Sambaliung merupakan salah satu wilayah bersejarah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah daerah, khususnya pada masa perlawanan terhadap kolonialisme. Wilayah dengan luas sekitar 2.167,37 kilometer persegi ini dihuni oleh 36.839 jiwa berdasarkan data tahun 2020.</p>
<p>Sejarah Sambaliung tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Kesultanan Sambaliung, sebuah kerajaan yang berdiri pada tahun 1810. Kesultanan ini merupakan pecahan dari Kesultanan Berau yang telah eksis sejak abad ke-14. </p>
<p>Pemecahan tersebut terjadi sebagai dampak dari politik adu domba yang dijalankan pemerintah kolonial Belanda, yang membagi Kesultanan Berau menjadi dua kekuasaan, yakni Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung.</p>
<p>Pada awal berdirinya, Kesultanan Sambaliung sempat dikenal dengan nama Tanjung, kemudian berubah menjadi Batu Putih, sebelum akhirnya resmi menggunakan nama Sambaliung pada tahun 1849. Sultan pertama yang memerintah adalah Raja Alam yang bergelar Sultan Alimuddin. Di bawah kepemimpinannya, Sambaliung berkembang menjadi salah satu kekuatan lokal yang secara terbuka menentang dominasi Belanda di wilayah pesisir timur Kalimantan.</p>
<p>Perlawanan terhadap kolonialisme Belanda menjadi catatan penting dalam sejarah Kesultanan Sambaliung. Sultan Alimuddin membangun aliansi dengan kelompok pejuang dari Bugis, Sulu, dan Makassar. Mereka mendirikan benteng pertahanan di kawasan Batu Putih, Tanjung Mangkalihat, sebagai basis perlawanan.</p>
<p>Situasi tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah kolonial. Pada April 1834, Belanda melancarkan serangan dengan dalih laporan dari penguasa Gunung Tabur, Aji Kuning II, yang menuduh Sultan Alimuddin dan sekutunya melakukan pembajakan kapal. Akibatnya, Sultan Alimuddin ditangkap dan diasingkan ke Makassar. Meski demikian, perlawanan rakyat Sambaliung tidak berhenti.</p>
<p>Ketegangan semakin meningkat ketika pada 27 September 1834 Belanda menyerahkan pengelolaan wilayah Sambaliung kepada Kesultanan Gunung Tabur. Kebijakan tersebut memicu penolakan luas dari masyarakat. Setelah tekanan dan perlawanan yang berkelanjutan, Sultan Alimuddin akhirnya dikembalikan ke Sambaliung pada 24 Juni 1837 dan kembali memimpin perlawanan terhadap kekuasaan kolonial.</p>
<p>Masa kejayaan Kesultanan Sambaliung mulai meredup pada era pendudukan Jepang. Meskipun struktur pemerintahan kesultanan masih dipertahankan, kekuasaan sesungguhnya berada di tangan militer Jepang. Rakyat dipaksa menyerahkan hasil bumi dan tenaga kerja demi kepentingan perang, yang menyebabkan penderitaan dan kelaparan di berbagai wilayah.</p>
<p>Pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, eksistensi Kesultanan Sambaliung secara resmi berakhir pada tahun 1960. Wilayah Sambaliung digabungkan dengan Gunung Tabur untuk membentuk Kabupaten Berau. Sultan terakhir Kesultanan Sambaliung, Muhammad Aminuddin, kemudian dipercaya menjadi bupati pertama Kabupaten Berau.</p>
<p>Warisan sejarah Kesultanan Sambaliung masih dapat disaksikan hingga kini, salah satunya melalui Keraton Sambaliung yang berdiri di tepi Sungai Kelay. Bangunan bersejarah ini kini difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai peninggalan kesultanan, termasuk prasasti beraksara Bugis yang berisi aturan adat bagi masyarakat, serta meriam yang digunakan dalam perlawanan melawan Belanda.</p>
<p>Sejak dahulu hingga sekarang, masyarakat Sambaliung menggantungkan kehidupan pada kekayaan sumber daya alam, seperti hasil hutan, pertanian, perkebunan, dan perikanan. Keberagaman etnis juga menjadi ciri khas kawasan ini, dengan hidup berdampingannya berbagai suku seperti Berau, Dayak, Bugis, Bajau, dan Basap selama berabad-abad.</p>
<p>Saat ini, Kecamatan Sambaliung terdiri atas 13 kampung dan satu kelurahan, yakni Kampung Bena Baru, Gurimbang, Inaran, Long Lanuk, Pegat Bukur, Pesayan/Mengkajang, Pilanjau, Rantau Panjang, Sambaliung, Suaran, Sukan Tengah, Sungai Bebanir, Tanjung Perangat, serta Kampung Tumbit Dayak.</p>
<p>Dengan latar belakang sejarah perjuangan melawan kolonialisme dan kekayaan warisan budaya yang dimiliki, Kesultanan Sambaliung menjadi bagian penting dari identitas sejarah Kalimantan Timur. Hingga kini, nilai-nilai sejarah tersebut terus dijaga dan menjadi potensi wisata budaya dan sejarah bagi generasi mendatang. (AUNI)</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Mengapa Natal Dirayakan 25 Desember? Ini Jejak Sejarahnya</title>
<link>https://kartanews.com/mengapa-natal-dirayakan-25-desember-ini-jejak-sejarahnya</link>
<guid>https://kartanews.com/mengapa-natal-dirayakan-25-desember-ini-jejak-sejarahnya</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202512/image_870x580_694d1f829ecba.jpg" length="104855" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Thu, 25 Dec 2025 19:27:20 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, INDONESIA</strong> - Setiap 25 Desember, umat Kristiani di seluruh belahan dunia memperingati Hari Raya Natal. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa penetapan tanggal tersebut merupakan hasil dari perjalanan sejarah panjang yang melibatkan keyakinan teologis, tradisi kuno, serta keputusan Gereja.</p>
<p>Secara historis, Alkitab tidak mencatat secara spesifik tanggal kelahiran Yesus Kristus. Fokus utama umat Kristen awal justru lebih tertuju pada perayaan Paskah, yang memperingati wafat dan kebangkitan Yesus. Bahkan, sejumlah tokoh gereja pada abad pertama dan kedua Masehi sempat memandang perayaan ulang tahun sebagai praktik yang identik dengan budaya pagan.</p>
<p>Meski demikian, seiring berkembangnya agama Kristen di wilayah kekaisaran Romawi, muncul kebutuhan akan satu tanggal resmi untuk memperingati kelahiran Yesus. Para sejarawan mencatat setidaknya terdapat dua teori utama yang menjelaskan mengapa 25 Desember akhirnya dipilih.</p>
<p>Teori pertama berkaitan dengan adaptasi budaya Romawi. Pada akhir Desember, masyarakat Romawi merayakan sejumlah festival penting, seperti Saturnalia, perayaan untuk menghormati Dewa Saturnus yang identik dengan pesta dan pemberian hadiah. </p>
<p>Selain itu, terdapat pula perayaan Dies Natalis Solis Invicti atau hari kelahiran “Matahari yang Tak Terkalahkan”yang bertepatan dengan titik balik matahari musim dingin. Gereja pada masa itu diduga menetapkan kelahiran Yesus pada tanggal yang sama sebagai upaya memberi makna baru terhadap tradisi yang sudah mengakar dengan memaknai Yesus sebagai terang sejati bagi dunia.</p>
<p>Teori kedua berangkat dari perhitungan teologis. Tradisi gereja awal meyakini bahwa peristiwa penting dalam hidup tokoh besar terjadi pada tanggal yang sama, termasuk antara saat dikandung dan wafat. </p>
<p>Berdasarkan tradisi ini, hari Anunsiasi yakni saat Maria mengandung Yesus, ditetapkan pada 25 Maret. Jika dihitung sembilan bulan sejak tanggal tersebut, maka kelahiran Yesus jatuh pada 25 Desember.</p>
<p>Dalam catatan sejarah, penyebutan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus mulai muncul pada awal abad ketiga. Sejarawan Kristen Sextus Julius Africanus pada tahun 221 Masehi telah menyinggung tanggal tersebut dalam tulisannya. </p>
<p>Selanjutnya, pada tahun 336 Masehi, kalender Romawi mencatat perayaan Natal secara resmi pada 25 Desember, bertepatan dengan masa pemerintahan Kaisar Konstantinus Agung. Penetapan ini kemudian diperkuat oleh Paus Julius I pada sekitar tahun 350 Masehi untuk Gereja Barat.</p>
<p>Meski demikian, tidak semua gereja merayakan Natal pada tanggal yang sama. Sejumlah gereja Ortodoks Timur, seperti di Rusia dan Mesir, masih menggunakan Kalender Julian, sehingga perayaan Natal jatuh pada 7 Januari menurut kalender Gregorian yang digunakan secara luas saat ini.</p>
<p>Seiring waktu, Natal berkembang melampaui ranah liturgi. Tradisi pohon Natal, kartu ucapan, hingga figur Santa Claus muncul dari pengaruh budaya Eropa Utara dan berkembang pesat pada abad ke-19. Revolusi industri dan media massa kemudian menjadikan Natal sebagai perayaan sosial dan ekonomi berskala global.</p>
<p>Meski demikian, makna religius Natal tetap menjadi inti perayaan bagi umat Kristiani. Natal dipahami sebagai peringatan inkarnasi, yakni kehadiran Tuhan dalam sejarah manusia, yang membawa pesan kasih, pengharapan, dan perdamaian.</p>
<p>Dengan latar sejarah tersebut, perayaan Natal pada 25 Desember tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai hasil dialog panjang antara iman, budaya, dan sejarah. </p>
<p>Terlepas dari perbedaan tanggal, makna utama Natal tetap berpusat pada peringatan kelahiran Yesus Kristus sebagai simbol harapan, damai, dan terang bagi umat manusia. (AUNI)</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Kementerian Ekraf Dorong Inovasi Budaya Lewat Robot Gamelan di TMII</title>
<link>https://kartanews.com/kementerian-ekraf-dorong-inovasi-budaya-lewat-robot-gamelan-di-tmii</link>
<guid>https://kartanews.com/kementerian-ekraf-dorong-inovasi-budaya-lewat-robot-gamelan-di-tmii</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202512/image_870x580_694a4ccbd2d45.jpg" length="149639" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Tue, 23 Dec 2025 16:08:24 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, JAKARTA</strong> – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) terus mendorong inovasi berbasis budaya sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif nasional. Salah satu langkah nyata ditunjukkan melalui peluncuran dan hibah robot gamelan atau E-Gamelan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (21/12/2025).</p>
<p>Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi antara Kemenekraf, TMII, dan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) yang menggabungkan teknologi kecerdasan buatan dengan seni tradisi Nusantara. Kehadiran robot gamelan menjadi simbol adaptasi budaya terhadap perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai dan makna tradisional yang melekat di dalamnya.</p>
<p>Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi dalam seni tradisi merupakan bagian dari strategi untuk menjaga keberlanjutan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi baru. </p>
<p>Menurutnya, budaya tidak hanya berfungsi sebagai warisan, tetapi juga sebagai sumber inspirasi dan inovasi yang memiliki nilai tambah ekonomi.</p>
<p>“Penggabungan teknologi dengan tradisi menunjukkan bagaimana kreativitas dapat menjadi jembatan antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi," ujar Wamen Ekraf Irene Umar, dikutip dari laman resmi Kemenparekraf, Selasa (23/12/2025).</p>
<p>"Gamelan bukan hanya warisan, tetapi identitas Indonesia yang memiliki potensi untuk terus berkembang dan menjangkau audiens global,” tambahnya.</p>
<p>Gamelan sendiri merupakan ansambel musik tradisional Indonesia yang telah hidup dan berkembang selama ratusan tahun, khususnya di Jawa dan Bali. </p>
<p>Instrumen ini juga tidak hanya berperan sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam upacara adat, ritual keagamaan, pendidikan, hingga pertunjukan seni. Nilai filosofis, kebersamaan, dan harmoni yang terkandung dalam gamelan menjadikannya tetap relevan dan eksis hingga saat ini.</p>
<p>Di tengah arus modernisasi, gamelan terus beradaptasi melalui berbagai pendekatan kreatif, mulai dari kolaborasi dengan musik kontemporer, pendidikan berbasis digital, hingga pemanfaatan teknologi seperti robot gamelan. Adaptasi inilah yang membuat gamelan mampu menjangkau generasi muda dan audiens global, sekaligus memperluas ruang ekspresi budaya Indonesia.</p>
<p>Dari sisi ekonomi, keberlanjutan gamelan turut memberikan dampak positif bagi masyarakat. Aktivitas produksi instrumen, pelatihan seni, pertunjukan budaya, hingga pariwisata berbasis budaya membuka lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi perajin, seniman, pelaku UMKM, serta komunitas kreatif di berbagai daerah. Inovasi seperti E-Gamelan juga memperkuat nilai jual budaya sebagai daya tarik wisata dan ekonomi kreatif.</p>
<p>Pelaksana Tugas Direktur Utama TMII, Ratri Paramita, menyatakan bahwa kehadiran robot gamelan sejalan dengan transformasi TMII sebagai ruang edukasi dan rekreasi budaya yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.</p>
<p>Ia berharap inovasi ini dapat memperkaya pengalaman pengunjung sekaligus memperkuat posisi TMII sebagai etalase budaya Indonesia.</p>
<p>Robot gamelan hasil inovasi Udinus ini dirancang untuk memainkan instrumen gamelan secara otomatis dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan.</p>
<p>Selain sebagai media pertunjukan, E-Gamelan diharapkan menjadi sarana edukasi dan inspirasi, sekaligus menunjukkan bahwa budaya Indonesia mampu berkembang secara adaptif di tengah kemajuan teknologi.</p>
<p>Kementerian Ekraf menegaskan komitmennya dalam menjadikan budaya sebagai kekuatan ekonomi sekaligus unique selling point Indonesia di tingkat nasional dan global. (AUNI)</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Mengenal Sosok Raja Alam, Calon Pahlawan Nasional dari Berau</title>
<link>https://kartanews.com/mengenal-sosok-raja-alam-calon-pahlawan-nasional-dari-berau</link>
<guid>https://kartanews.com/mengenal-sosok-raja-alam-calon-pahlawan-nasional-dari-berau</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202512/image_870x580_6947a47bb60dd.jpg" length="92168" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sun, 21 Dec 2025 15:43:57 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM, BERAU</strong> - Raja Alam bergelar Sultan Alimuddin merupakan Sultan pertama Kesultanan Sambaliung, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ia dikenal sebagai tokoh penguasa lokal yang secara tegas menolak dominasi kolonial Belanda dan mempertahankan kedaulatan pemerintahan kesultanan pada abad ke-19. </p>
<p>Atas peran tersebut, Pemerintah Kabupaten Berau mengajukan pengusulan Raja Alam sebagai calon Pahlawan Nasional melalui mekanisme resmi sesuai ketentuan Kementerian Sosial Republik Indonesia.</p>
<p><strong>Mengenal Sosok dan Peran Sejarah Raja Alam</strong></p>
<p>Raja Alam berasal dari lingkungan bangsawan Kesultanan Berau dan diangkat sebagai Sultan pertama Kesultanan Sambaliung pada masa ekspansi kolonial Belanda di Kalimantan Timur. Dalam kedudukannya sebagai sultan, ia memegang kewenangan pemerintahan, hukum adat, dan pengelolaan wilayah.</p>
<p>Berbeda dengan sebagian penguasa lokal lain pada masa itu, Raja Alam mengambil sikap non-kooperatif terhadap kebijakan kolonial. Ia menolak perjanjian politik yang membatasi kedaulatan kesultanan dan memberi ruang intervensi Belanda dalam urusan internal pemerintahan Sambaliung.</p>
<p>Penolakan tersebut memicu tekanan politik dan militer dari pemerintah kolonial. Dalam catatan sejarah, Raja Alam diketahui mempertahankan pengaruhnya di wilayah Sungai Kelay dan Sungai Segah, sebagaimana wilayah tersebut dulunya, menjadi jalur strategis ekonomi dan mobilisasi masyarakat Berau.</p>
<p><strong>Penangkapan dan Pengasingan Raja Alam</strong></p>
<p>Akibat sikap politiknya, Raja Alam ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan diasingkan ke Benteng Rotterdam Makassar. Pengasingan ini bertujuan melemahkan pengaruh Raja Alam serta memutus hubungan kepemimpinannya dengan rakyat Sambaliung dan sekitarnya.</p>
<p>Kebijakan pengasingan tersebut menunjukkan bahwa Raja Alam dipandang sebagai tokoh yang memiliki pengaruh besar dan berpotensi mengganggu stabilitas kekuasaan kolonial di wilayah Berau.</p>
<p><strong>Warisan dan Pengaruh Raja Alam</strong></p>
<p>Setelah masa pengasingan, Raja Alam kembali ke Berau dan tetap dihormati sebagai tokoh adat serta simbol perlawanan. </p>
<p>Raja Alam wafat dan dimakamkan di Batu Putih, Kabupaten Berau. Hingga kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan, fasilitas publik, serta identitas sejarah yang mencerminkan pengakuan atas nilai perjuangan, kegigihan dan keteladanan kepemimpinannya.</p>
<p><strong>Alasan Pengusulan sebagai Pahlawan Nasional</strong></p>
<p>Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Sosial menilai Raja Alam memenuhi kriteria utama calon Pahlawan Nasional karena:</p>
<ol>
<li>Terlibat langsung dalam perlawanan terhadap kolonial Belanda melalui penolakan politik dan tekanan terhadap kepentingan kolonial.</li>
<li>Mempertahankan kedaulatan pemerintahan lokal meskipun menghadapi tekanan dan pengasingan.</li>
<li>Memberikan pengaruh luas bagi masyarakat Berau, baik pada masa perjuangan maupun setelah wafat.</li>
<li>Memiliki keteladanan moral dan kepemimpinan yang relevan dengan nilai perjuangan bangsa.</li>
</ol>
<p><strong>Langkah Pemerintah dalam Proses Pengusulan Pahlawan Nasional</strong> </p>
<p>Untuk memastikan pengusulan Raja Alam berjalan sesuai prosedur, Pemerintah Kabupaten Berau menempuh sejumlah langkah konkret.</p>
<p>Pertama, penataan ulang proses administratif, setelah diketahui bahwa nama Raja Alam belum pernah tercatat secara resmi dalam daftar usulan Pahlawan Nasional di tingkat pusat.</p>
<p>Kedua, penyelenggaraan seminar akademik dengan melibatkan sejarawan dan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk menilai substansi sejarah, metodologi penulisan biografi, serta kelengkapan data pendukung.</p>
<p>Ketiga, penyusunan kajian akademik dan biografi resmi yang mengacu pada sumber arsip, literatur sejarah, hasil penelitian ilmiah, serta data lapangan seperti peninjauan makam Raja Alam dan situs-situs sejarah Kesultanan Sambaliung.</p>
<p>Keempat, pengumpulan dan verifikasi dokumen pendukung, termasuk rekomendasi tokoh adat, akademisi, serta hasil kajian institusi terkait.</p>
<p>Kelima, pengajuan berjenjang, dimulai dari tingkat Kabupaten Berau, kemudian ke Pemprov Kalimantan Timur untuk memperoleh rekomendasi gubernur, sebelum akhirnya diajukan ke Kementerian Sosial Republik Indonesia.</p>
<p>Keenam, setelah melalui verifikasi Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) dan Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), usulan akan disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia untuk penetapan gelar Pahlawan Nasional.</p>
<p>Pengusulan Raja Alam sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar upaya simbolik, melainkan langkah sistematis untuk menempatkan tokoh perjuangan daerah dalam sejarah nasional. Melalui kajian akademik yang terukur dan proses administratif yang tertib, Pemerintah Kabupaten Berau berharap jasa dan perjuangan Raja Alam dapat memperoleh gelar resmi dari negara. (AUNI)</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Guru Bahasa Jepang Rasakan Pengalaman Unik Mengenal Tradisi Adat Bonokeling di Banyumas</title>
<link>https://kartanews.com/guru-bahasa-jepang-rasakan-pengalaman-unik-mengenal-tradisi-adat-bonokeling-di-banyumas</link>
<guid>https://kartanews.com/guru-bahasa-jepang-rasakan-pengalaman-unik-mengenal-tradisi-adat-bonokeling-di-banyumas</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202511/image_870x580_6922c7e23677f.jpg" length="65465" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sun, 23 Nov 2025 16:39:02 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords>Tradisi, adat budaya, jepang, global</media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM</strong>, Banyumas, Jawa Tengah — Sejumlah guru bahasa Jepang (sensei) mengikuti kegiatan pengenalan budaya bersama masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Sabtu, 22 November 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran budaya antara pendidik Jepang dan masyarakat adat yang selama ini dikenal menjaga tradisi leluhur secara turun-temurun.</p>
<p>Rombongan sensei disambut hangat oleh para pemuda dan pemudi Bonokeling yang dipimpin oleh Darno. Mereka kemudian diperkenalkan pada berbagai ritual adat, tata krama budaya, hingga aktivitas komunal masyarakat, yang selama ini menjadi identitas kuat komunitas Bonokeling.</p>
<p>Mengenal Tradisi dan Kearifan Lokal Bonokeling</p>
<p>Dalam agenda tersebut, para guru bahasa Jepang berkesempatan mengenakan pakaian adat Bonokeling dan mengikuti simulasi tradisi seperti sungkeman serta penjelasan mengenai makna-makna budaya yang terkandung di baliknya.</p>
<p>Peserta juga diajak melihat langsung proses pembuatan kain tenun tradisional di rumah salah satu perajin. Mereka mempelajari alur produksi kain — mulai dari pengolahan kapas menjadi benang hingga menjadi lembar kain siap pakai — yang mengandung filosofi mengenai ketekunan dan nilai hidup masyarakat adat setempat.</p>
<p>Selain kerajinan tangan, para sensei diajak menyaksikan aktivitas masyarakat dalam persiapan hajatan adat dan menjalani keseharian yang lekat dengan budaya gotong royong.</p>
<p>Pengenalan Pertanian Adat</p>
<p>Rangkaian kegiatan berlanjut pada pengenalan sistem pertanian tradisional masyarakat Bonokeling. Para guru dari Jepang diperlihatkan proses penanaman padi, sayuran, serta teknik perawatan lahan secara tradisional. Mereka bahkan diberi kesempatan memanen hasil bumi bersama masyarakat setempat.</p>
<p>Penguatan Hubungan Budaya Indonesia–Jepang</p>
<p>Kegiatan ini disebut memiliki nilai penting dalam memperkuat hubungan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Jepang. Melalui interaksi langsung, para pendidik Jepang memperoleh perspektif baru mengenai keberagaman budaya Nusantara.</p>
<p>“Kami sangat senang bisa memperkenalkan tradisi Bonokeling kepada tamu dari Jepang. Semoga kegiatan ini mempererat hubungan budaya dan membuka ruang kolaborasi di masa depan,” ujar salah satu tokoh masyarakat adat Bonokeling.</p>
<p>Seorang sensei yang mengikuti kegiatan ini turut menyampaikan apresiasi.</p>
<p>“Kami berterima kasih atas kesempatan mempelajari budaya Bonokeling secara langsung. Ini pengalaman yang sangat berharga untuk kami bagikan kepada masyarakat di Jepang,” ujarnya.</p>
<p>Tentang Masyarakat Adat Bonokeling</p>
<p>Komunitas adat Bonokeling merupakan kelompok masyarakat adat yang menjaga tradisi leluhur, ritual budaya, dan tatanan hidup harmonis dengan alam. Banyak elemen budayanya yang masih dipraktikkan hingga kini dan menjadi bagian penting kekayaan budaya Banyumas. (suho - bayu)</p>]]> </content:encoded>
</item>

<item>
<title>Para Guru Bahasa Jepang Kunjungi Banyumas, Perkuat Jejaring Budaya dan Pendidikan Indonesia–Jepang</title>
<link>https://kartanews.com/para-guru-bahasa-jepang-kunjungi-banyumas-perkuat-jejaring-budaya-dan-pendidikan-indonesiajepang</link>
<guid>https://kartanews.com/para-guru-bahasa-jepang-kunjungi-banyumas-perkuat-jejaring-budaya-dan-pendidikan-indonesiajepang</guid>
<description><![CDATA[  ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202511/image_870x580_6922af8dc5db9.jpg" length="141679" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Sun, 23 Nov 2025 14:55:21 +0800</pubDate>
<dc:creator>Redaktur</dc:creator>
<media:keywords>Budaya lokal, lembaga, komunitas</media:keywords>
<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KARTANEWS.COM</strong>, Banyumas, Jawa Tengah — Upaya mempererat hubungan budaya dan pendidikan antara Indonesia dan Jepang terus mendapat dukungan berbagai pihak. Pada 21–23 November 2025, sejumlah guru atau sensei asal Jepang melakukan kunjungan dua hari di wilayah Banyumas, Jawa Tengah. Agenda ini digelar atas inisiatif lintas lembaga dan komunitas di Banyumas, di antaranya Majelis RUDJIMAS, Rumah Ajar Bahasa Absolut Japan, Qafa Group, Sanggar Kamulyan Sinduredja, DPW Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Banyumas, Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, IPNU/IPPNU PC NU Banyumas, serta Pemerintah Desa Selanegara.</p>
<p>Kunjungan para sensei dipimpin oleh Maksum, pendiri Rumah Ajar Bahasa Absolut Japan sekaligus pengurus LPM Banyumas, yang beralamat di Dusun Semelik, Desa Selanegara, Kecamatan Sumpyuh.</p>
<p>Penguatan Pendidikan Bahasa Jepang di Banyumas</p>
<p>Setibanya di Banyumas, para sensei Jepang disambut hangat oleh para siswa dan pengajar di Rumah Bahasa Absolut Japan. Para siswa menampilkan kemampuan berbahasa Jepang mereka melalui percakapan dan presentasi singkat. Para sensei kemudian memberikan kuliah umum mengenai budaya, etika komunikasi, serta pendekatan pembelajaran bahasa Jepang yang mereka terapkan di sekolah-sekolah di negara asal.</p>
<p>Interaksi ini memberi kesempatan para siswa untuk berlatih langsung dengan penutur asli, sekaligus menumbuhkan motivasi mereka dalam mempelajari bahasa Jepang secara lebih mendalam.</p>
<p>Penyambutan Masyarakat dan Tokoh Lokal</p>
<p>Kunjungan dilanjutkan ke Majelis RUDJIMAS yang dipimpin Gus Mabni Rukhama (Gus Ahong), dan dihadiri Kepala Desa Selanegara beserta masyarakat setempat. Para sensei diperkenalkan pada kekayaan budaya Banyumas, termasuk musik dan tarian tradisional, sebagai bagian dari diplomasi budaya warga Banyumas kepada tamu internasional.</p>
<p>Di sela kunjungan, rombongan juga bertolak ke SMK YPE Kroya. Di sana, para sensei memberikan kuliah umum tentang teknologi, industri kreatif, dan dunia kerja di Jepang. Para siswa SMK diberi kesempatan berdialog mengenai peluang pengembangan keterampilan dan kemungkinan kerja sama pendidikan vokasi.</p>
<p>Mengenal Budaya Masyarakat Adat Bonokeling</p>
<p>Pada hari kedua, para sensei diajak mengunjungi komunitas Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Mereka disambut oleh para pemuda dan pemudi adat yang kemudian memperkenalkan tradisi, tata nilai, dan ritus budaya Bonokeling yang selama ini menjadi warisan penting masyarakat Banyumas.</p>
<p>Kegiatan ini menjadi pengalaman baru bagi para pendidik dari Jepang, terutama dalam memahami keberagaman budaya Nusantara yang hidup secara turun-temurun.</p>
<p>Kunjungan Wisata dan Sejarah Banyumas</p>
<p>Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Museum Wayang dan kawasan Kota Lama Banyumas. Para sensei mendapat penjelasan mengenai sejarah perwayangan, perkembangan seni pertunjukan lokal, serta perjalanan sejarah Banyumas sebagai salah satu kota tertua di Jawa bagian selatan.</p>
<p>Usai dari museum, rombongan menuju Wisata Agro Durian di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen. Selain menikmati panorama alam, mereka mencicipi produk pertanian lokal sekaligus berdialog dengan para petani setempat tentang produksi dan pengembangan agro wisata.</p>
<p>Perkuat Ekonomi Kreatif dan Jejaring Pendidikan</p>
<p>Kedatangan para guru asal Jepang ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan dalam bidang pendidikan bahasa, pertukaran budaya, hingga pengembangan sektor ekonomi kreatif Banyumas.</p>
<p><em>“Agenda ini bukan sekadar kunjungan, tetapi langkah memperkuat jejaring antara Banyumas dan Jepang. Dari pendidikan bahasa, kebudayaan, hingga sektor ekonomi kreatif—semuanya punya peluang besar dikembangkan bersama,” </em>ujar salah satu panitia kegiatan.</p>
<p>Kunjungan ini sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Banyumas ke masyarakat global sekaligus membuka ruang kerja sama baru yang lebih strategis di masa depan. (suho-bayu)</p>]]> </content:encoded>
</item>

</channel>
</rss>