<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
     xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
     xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
     xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/"
     xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#"
     xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
     xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/">
<channel>
<title>Kartanews &#45; Angga Dwi Saputra</title>
<link>https://kartanews.com/rss/author/anggadwis</link>
<description>Kartanews &#45; Angga Dwi Saputra</description>
<dc:language>en</dc:language>
<dc:rights>@PT Digitalindo Media Utama &#45; kartanews.com</dc:rights>

<item>
<title>Monopoli Terselubung di Balik Kebijakan Energi</title>
<link>https://kartanews.com/monopoli-terselubung-di-balik-kebijakan-energi</link>
<guid>https://kartanews.com/monopoli-terselubung-di-balik-kebijakan-energi</guid>
<description><![CDATA[ Kehabisan stok di SPBU swasta seperti BP dan Shell bukan semata masalah logistik, melainkan akibat kebijakan yang mewajibkan impor bahan bakar melalui Pertamina. Aturan ini membuat swasta kehilangan kemandirian, menurunkan kualitas produk, dan menaikkan harga. Di baliknya, kebijakan tersebut didorong untuk menjaga kinerja BUMN, namun efeknya menciptakan monopoli terselubung yang menghambat kompetisi dan mengancam iklim investasi. Pemerintah perlu meninjau ulang kebijakan ini agar kinerja BUMN tidak dicapai dengan mengorbankan keadilan pasar dan semangat ekonomi terbuka. ]]></description>
<enclosure url="https://kartanews.com/uploads/images/202511/image_870x580_690d8452ec4d4.jpg" length="523664" type="image/jpeg"/>
<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 13:33:34 +0800</pubDate>
<dc:creator>Angga Dwi Saputra</dc:creator>
<media:keywords></media:keywords>
</item>

</channel>
</rss>